May
11
Filed Under (My Stories) by sarasdewi on 11-05-2009

Tidak terasa empat tahun lamanya Natalia telah berpulang.

Dua hari belakangan saya terus bermimpi detik-detik saya menghantarkan peti jenazah dari Jakarta menuju Denpasar. Melalui bantuan seorang kolega Ayah, kami disewakan satu pesawat boeing untuk mengangkut peti jenazah dan 100 orang pelayat. Semua orang yang saya kasihi berada di dalam pesawat itu. Orang tua saya, adik-adik saya, dan sahabat-sahabat saya.

Pesawat yang kami charter berderum halus, langit cerah tanpa gumpalan awan. Ketika di ketinggian 40.000 kaki, pilot melalui public announcer mengucapkan kata belasungkawa. Setiap orang berwajah lesu, menahan tangis, dan berbisik-bisik bercerita tentang betapa manisnya adik saya. Sungguh malam yang penuh dengan derita. Saya melihat keluar dari jendela, dan langit begitu terang dengan percik-percik bintang. Indah seperti pendar mata Natalia.

Saya tidak sempat menangis. Semua orang menangis, khususnya Mamah dan Ayah. Mereka menangis tanpa henti, seluruh keluarga terus menangis larut di dalam duka. Selama 2 jam perjalanan itu saya terlalu risau memikirkan bagaimana kesepiannya adik saya berada di kargo seorang diri. Karena selama ini ia anak yang penakut, takut tidur sendiri dan takut gelap. Saya selalu ingat pada tengah malam ia akan menyusup ke kamar saya dan memeluk saya di dalam selimut.

Adik saya disemayamkan di pembaringan rumah duka selama 9 hari, selama itu pula saya tidur tidak jauh dari persemayamannya. Tiap malamnya saya masih menyanyikan Natalia lagu-lagu pengantar tidur. Saya tidak sempat berduka, karena setiap orang bergantung dan berharap kekuatan pada diri saya. Malangnya adik saya Ayu yang harus pulang ditengah studinya di Australia, dan mendapati Natalia sudah meninggal. Begitu juga dengan adik saya Bagus, yang terus menangis dan menjadi murung. Sungguh janggal bagi saya, kami berempat sangat dekat dan kini harus kehilangan salah satu saudara yang amat kami cintai.

Di hari Ngaben, ribuan pelayat datang dan mendoakan prosesi upacara suci pembakaran jenazah. Saya ingat sekali, bagaimana saya dan Mama membawa guci berisikan abu Natalia ke tengah laut. Langit gelap dan ombak bergelombang dengan keras. Mama saya memegang erat guci tersebut. Di tengah samudera disanalah saya berpisah dengan adik saya. Menebarkan abunya dan mengucap selamat tinggal.

Sebagai seorang filosof saya paham bahwa kematian itu alamiah, kematian itu adalah sebagian dari kemanusiaan kita. Begitu banyak buku dan ilmu yang saya pelajari tidak juga melipur kesedihan saya kehilangan Natalia. Ironis, bagaimana pengetahuan itu tidak menyelamatkan jiwa saya.

Kini empat tahun berselang, tiap tahunnya akhirnya saya memiliki waktu untuk berduka. Untuk menangis di bilik kamar, tanpa suara dan mengenang bagaimana beratnya hidup tanpa kehadiran Natalia. Bila ia masih hidup kini Natalia akan berusia 20 tahun, sedang menyusun skripsi dan bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia masih menggandrungi Harry Potter dan maniak menyantap sop kambing. Kenangan-kenangan ini yang menjadi sangat berharga untuk saya, yang menjadi penghiburan ketika malam mengisolasi diri saya.

Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca blog saya. Saya merasa bahwa diluar sana begitu banyak orang yang merasakan derita yang sama kehilangan orang yang sangat dikasihi. Kepada mereka saya membuka tangan dan erat merangkul.

Apr
23
Filed Under (Philosophy) by sarasdewi on 23-04-2009

Ada alasannya mengapa ilmuwan dan peneliti iklim bernama James Lovelock menyebut planet bumi sebagai Gaia di dalam karyanya yang termasyhur Gaia: New Perspective on Life. Di dalam tradisi mitologi Yunani, Gaia diyakini sebagai simbol martriarki dari para dewi-dewi. Dituliskan oleh pujangga Hesiod di dalam karyanya Theogony, bahwa Gaia adalah sumber kekuatan yang menghembuskan kehidupan dan mengakhiri kekacauan di alam semesta. Rupanya pemberian nama pada bumi ini untuk Lovelock bukanlah sekedar metafora semata, ia sungguh-sungguh meyakini bahwa bumi adalah superorganisme yang mampu menyesuaikan diri dan juga memelihara kehidupan yang berjalan di dalamnya.

Melalui telusur DNA yang ditemukan di Afrika, disimpulkan bahwa eksistensi manusia kurang lebih berusia 200.000 tahun. Usia ini seperti sekejap mata apabila dibandingkan dengan usia bumi yang terentang selama 4,5 milyar tahun lamanya. Dari pengukuran sederhana ini bumi sebagai planet telah melewati berbagai macam perubahan atau tahap evolusi. Tetapi dikarenakan kecenderungan perspektif antroposentrik, umat manusia kerap melupakan apa kepentingan bumi sebagai planet, dan mendahulukan kepentingan manusia saja. Kita sering menganggap bahwa bumi hanyalah ruang bagi sejarah manusia, benda mati yang bisa dieksploitasi dan dipergunakan hanya untuk kepuasan manusia.

Lovelock sebagai salah satu tokoh yang memberikan dampak signifikan terhadap gerakan lingkungan hidup, mengajukan justru pandangan juxtaposisi, bahwa sesungguhnya bumi bukanlah objek mati yang statis, menurutnya Gaia adalah entitas kompleks yang mampu mengkontrol dan bertindak untuk merawat keseimbangan dirinya. Beberapa argumen dari Lovelock melibatkan konsep-konsep seperti stabilitas tempratur, dan equilibrium ekosistem. Misalnya argumen Lovelock mengenai kemampuan cybernetic dari Gaia untuk menjaga konsistensi dari tempratur, ia menjustifikasi bahwa bumi secara subtil menjaga tempratur agar seluruh spesies dapat hidup secara nyaman. Kejadian ini ia analogikan seperti proses homeostasis manusia. Dimana tubuh manusia secara cybernetic mampu menyesuaikan dan beradaptasi secara fisiologis dalam kondisi-kondisi iklim tertentu. Disaat tubuh manusia terserang dingin, maka kita akan menggigil untuk menghasilkan panas, sebaliknya, apabila tubuh kita merasa panas maka kita akan berkeringat untuk mendinginkan tubuh.

Semenjak munculnya oksigen ke atmosfir bumi hampir 2 milyar tahun yang lalu, Gaia telah menjadi rumah bagi kurang lebih 10 milyar spesies makhluk hidup. Kita adalah salah satu spesies yang sangat bergantung pada keberadaan oksigen. Bila kita teliti lebih mendalam, sesungguhnya spesies yang bertempat tinggal di bumi bergantung pada keseimbangan yang rapuh. Oksigen sebagai salah satu contoh, gas O2 yang kita sebut sebagai udara berada pada lapisan troposfer yang ketebalannya tidak mencapai 17 kilometer. Dibawah tudungan troposfer inilah kehidupan dimungkinkan, tidak terbayangkan katastrof yang terjadi apabila lapisan yang tipis ini rusak dan terkontaminasi dengan gas-gas beracun lainnya.

Selain pembelaan Lovelock terhadap ‘kecerdasan’ Gaia merawat tempratur untuk kondisi hidup, ia juga menunjukan betapa istimewanya bumi sebagai planet melalui perbandingan dengan planet-planet lainnya di tata surya. Ia menjelaskan bahwa selepas terjadinya supernova dan terbentuknya tata surya kita, hanya bumi yang menunjukan fertilitasnya sebagai planet dibandingkan dengan Mars dan Venus. Padahal antara Mars, Bumi dan Venus pada awalnya terdiri dari elemen-elemen yang serupa, beracun dan sangat radioactive, tanpa lapisan ozon sehingga tidak terlindungi dari radiasi sinar ultra violet. Masing-masing dari tiga planet ini memang menjalani proses evolusi, misalnya Mars meski kini memiliki atmosfer, tetapi yang melapisi angkasa Mars adalah gas karbondioksida, sementara itu yang melapisi Venus adalah gas belerang yang beracun, hanya bumi yang berevolusi dan memiliki kehidupan. Sungguh unik dan misterius bagaimana bumi mampu memelihara kehidupan dan menyeimbangkannya pula.

Namun sepertinya keharmonisan yang selama milyaran tahun telah diciptakan oleh Gaia kini terganggu oleh perubahan-perubahan radikal yang dibuat oleh manusia. Industrialisasi massal, overpopulasi, adalah sebagian problem yang ditimbulkan oleh manusia. Setiap tahunnya semakin banyak wilayah hijau yang tergusur dan digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit. Hilangnya hutan-hutan tropis sebagai paru-paru dunia mengakibatkan semakin tingginya gas karbondioksida yang diproduksi dari penggunaan bahan bakar fosil. Semua fenomena ini berujung pada pemanasan global, dimana efek domino dari kejadian ini adalah mencairnya glasier di daerah kutub yang kemudian menyebabkan meningkatnya permukaan air.

Hal lainnya yang patut diprihatinkan adalah berkurangnya lapisan ozon kita, pada tahun 2008 NASA menunjukan foto angkasa Antartika yang menunjukan lubang teramat besar di lapisan ozon kita. Bila keadaan ini terus berlanjut maka umat manusia akan semakin terkespos dengan frekuensi tinggi dari sinar ultraviolet. Banjir gempa bumi dan, perubahan iklim yang drastis, hanyalah awal dari petaka, bila tidak segera ditanggulangi maka akan berakibat pada berkembangnya virus penyakit, musnahnya habitat hewan hingga gagalnya produksi pangan beserta efek-efek destruktif lainnya. Apabila hipotesa yang disampaikan oleh Lovelock mengenai Gaia benar, bahwa bumi adalah semacam superorganisme. Maka kita patut berpikir, apakah petaka-petaka alam ini merupakan reaksi bumi untuk menyeimbangkan keadaan? Apakah reaksi bumi tersebut merupakan tindakan resistensi terhadap ancaman yang dilakukan oleh manusia?

Filosofi dari Lovelock mendorong kita untuk mengkontemplasikan, apa maknanya manusia hidup di bumi ini? Mengapa eksistensi kita di bumi justru menyebabkan kehancuran dan membahayakan kelangsungan keseimbangan yang rapuh tersebut? Terlepas dari kebenaran hipotesa Gaia milik Lovelock, sesungguhnya ekosistem kita bersandar pada kepekaan kita untuk bertindak, pilihan hidup kita memberi dampak pada lingkungan di sekitar kita. Bila manusia memilih untuk meneruskan gaya hidup yang destruktif terhadap lingkungan maka tentunya bumi akan memberikan reaksi yang ekstrem juga.

Bagaimanapun buruknya kerusakan yang telah kita akibatkan, bumi sepertinya masih memberikan manusia waktu untuk mengevaluasi dan berubah. Karena itulah kita seharusnya optimis bahwa penyadaran terhadap pentingnya lingkungan hidup masih dimungkinkan. Advokasi terhadap kelestarian bumi sudah seharusnya digencarkan, kita harus mendesak para pembuat kebijakan untuk menjadi sensitif dan berpihak pada kelestarian alam. Undang-undang perlindungan hutan, laut dan cagar alam kita harus dijalankan dengan sepenuh hati. Manusia juga harus segera mencari sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selain itu kita harus merubah pola konsumsi kita yang berlebih terhadap sumber daya alam, dan membiasakan diri untuk melakukan proses daur ulang.

Hidup berkesadaran adalah kunci untuk dapat terus melanggengkan keharmonisan ekosistem kita yang begitu indah. Kita harus ingat, bahwa manusia hanyalah sebagian kecil dari bumi. Sudah selayaknya kita merasa beruntung dapat hidup di bumi dan merasakan segarnya air, sejuknya udara dan hangatnya matahari. Mengagumkan bila direfleksikan, bahwa bumi kita telah memberikan kita anugerah kehidupan. Kita patut meluangkan waktu dan berhenti sejenak, merasakan denyut nadi Gaia dan mengucap syukur.

Mar
13
Filed Under (My Stories, Philosophy) by sarasdewi on 13-03-2009

Ada yang indah dari kekacauan.  Ada yang menarik dari sesuatu yang abstrak. Yang tidak bisa kita pahami dengan rasio atau logika, yang tidak bisa kita perkirakan atau kita ukur. Sesuatu yang membuat kita enggan untuk mendayung sampan, dan membiarkan segalanya berlalu sesuai dengan laju arus. Saya hidup tanpa rencana. Saya sungguh-sungguh ‘hippie’ yang menghargai waktu beserta segala hak kemisteriusannya. Saya tidak suka ramalan cuaca, tidak suka memikirkan hari esok, tidak suka berlarut-larut memikirkan derita hari ini, karena segalanya selalu berubah.

Mungkin karena itulah saya benci benda-benda elektronik. Karena alat-alat tersebut mengekang dan memaksa kita untuk selalu membuat keteraturan. Saya benci menyusun, entah itu daftar telpon, hingga buku-buku di kamar saya. Saya sentimental fool yang anti perfeksionisme, saya impulsif, dan saya memilih untuk bekerja dengan cara mendadak (hihihi) Memang ada masanya impulsivitas saya harus tunduk dibawah standarisasi masyarakat umum. Banyak yang menyangka saya terbiasa dengan keteraturan, padahal, dibalik senyum, tata bahasa yang tertata dan buku-buku yang tersusun rapi di meja Departemen Filsafat, saya berusaha keras menekan kecintaan saya dengan kekacauan.

Sejujurnya, saya merasa takut dengan keteraturan. Bila segalanya sudah kita perhitungkan, kita timbang untung-ruginya, tabulasikan kemungkinan-kemungkinannya, lantas, tidak ada lagi yang mendebarkan dari hidup. Tentu saja tidak semua orang berpandangan hidup seperti ini. Kekasih saya contohnya, ia sangat kesal dengan gaya hidup saya yang mendewakan ‘flux’ atau ‘chaos’. Dialah yang mengajarkan saya menggunakan jam tangan! Memaksa saya menggunakan handphone canggih (seperti blackberry!!!), yang hingga kini masih berhasil saya tolak dengan cerdik (entah sampai berapa lama…) Kekasih saya hingga kini masih berusaha menyingkirkan ponsel Motorola tua saya.

Ponsel saya benda antik yang manis, jam digitalnya sudah rusak, jadi saya tidak merasa dia selalu mengingatkan dan menekan waktu.  Dia tidak membuat saya kecanduan, dia tidak bisa online, jadi saya tidak selalu merasa punya kewajiban untuk loggin dan jadi ‘eksis’.  Tidak membuat saya menjadi robot, alarmnya sudah rusak jadi saya tidak merasa dia bisa mengatur dengan bunyi-bunyi yang bising. Ponsel biru saya adalah satu-satunya teknologi yang bisa saya tolerir, meskipun begitu ada masanya saya pulang ke rumah dan mematikan ponsel, membiarkan diri terlepas dari jangkauan.

Memang sepertinya berbahaya hidup tanpa persiapan. Tapi masa-masa saya terlalu mengkhawatirkan detil-detil dari hidup telah saya lewati. Di usia saya yang sekarang, saya puas melayari hidup apa adanya. Masa-masa tinggi tidak membuat saya terlalu senang, dan sebaliknya masa-masa rendah saya nikmati dan saya gali hikmahnya. Saya senang berkarya, bukan(hanya) untuk rekognisi, tapi saya cinta berkarya karena karya adalah cara untuk berkomunikasi dengan ratusan ribu pikiran di luar sana. Dulu saya berpikir bahwa saya harus produktif sebagai manusia, itu rencana saya. Tapi di dalam proses memaksa diri menjadi produktif, saya merampas diri saya dari pentingnya untuk selalu bersuka ria, menikmati pengejaran dan pencapaian. Saya tidak ingin terlalu habis waktu merencanakan sesuatu, dan melewati kejadian yang sesungguhnya.

Dr. Salovey, seorang psikolog keren dari Yale pernah berkata, “kita menyukai seseorang karena setitik blunder di dalam diri orang tersebut.” Kita menyukai seseorang karena kelemahannya, karena kekurangannya, setitik kekacauan yang tersimpan di dalam wajah mereka. Saya sangat meyakini itu, we are messy… right? Ada sesuatu yang eksotik di balik ‘chaos’. Perasaan yang mentah, yang hanya kita rasakan ketika kita berdiri di depan sesuatu yang tidak kita ketahui, tetapi begitu menarik dan mempesona. Don’t you think chaos is fascinating?

We love life because of its chaotic imperfection.

Lega yah rasanya, bisa bicara dengan esteem, that I’m a chaoticoholic :D

Rapih karena terpaksa….

 

Mar
04
Filed Under (Philosophy) by sarasdewi on 04-03-2009

Dear teman2 yang setia singgah di Blog ini…

Selasa tanggal 10 Maret 2009 ini saya akan launching buku ke-3 saya yang berjudul Cinta Bukan Coklat.  Senang dan bercampur gugup, karena saya lama sekali tidak menulis buku, apalagi tema nya yang susah soal cinta….

Meski Cinta bukan Coklat ini buku filsafat, tapi jangan takut, filsafat yang saya jabarkan sama sekali nggak susah, bahkan rasanya seperti membaca blog saya. Memang sengaja saya tulis dengan ringan dan jenaka (maaf ya kalau kadang2 lucunya garing..)

Semua teman2 di situs ini saya undang, apalagi yang setia banget support saya selama 4 tahun bekerja, entah itu menyanyi, mengajar, hingga berpuisi dan menulis. Saya merasa bahwa diluar sana ada orang-orang yang mengerti saya dan mendukung my wild adventures…

Jadi kalau temen2 mau, silahkan mampir ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, jam 12:00PM, UI, Depok.

Saya akan memperkenalkan buku saya, berpuisi dan menyanyi…

Launching Cinta Bukan Coklat

Launching Cinta Bukan Coklat

Feb
10
Filed Under (My Stories) by sarasdewi on 10-02-2009

Beraspirasi untuk terus menjadi seorang filosof, saya banyak memikirkan mengenai hidup dan berbagai pernak-perniknya. Sesekali ketika saya benar-benar berada di dalam suatu rutinitas, saya kerap lupa, bahwa saya bernafas, dan menjalani peran di dalam kehidupan.Saya anggap kesibukan saya adalah dunia sesungguhnya, kekhawatiran saya tentang uang, sepatu, dan ehem, cara membeli tas Louis Vuitton terbaru, terkadang memang menyedot kemampuan filosofis saya.

Tapi saya jadi teringat di dalam paham Tiga Guna di dalam Hindu bahwa, suatu saat manusia butuh istirahat, sesekali kita diharuskan untuk menjadi tamas, bermalas-malasan di kursi dan melihat bagaimana senja jatuh di kaca jendela. Di kala hujan, di kala sakit, di kala writer’s block, saya punya kesempatan untuk memikirkan tentang apa hidup itu sesungguhnya, hidup tanpa kontaminasi Louis Vuitton dan nonton Info(tai)nment :)

Jadi berupaya memurnikan kemampuan reflektif saya, apa yang harus dilakukan? Jakarta terlampau penuh dengan kepenatan dan saut-sautan klakson metromini di depan rumah, hiks. Tapi penuh dengan determinasi, saya harus cari penyegaran jiwa, dengan minimum budget (nggak mungkin keluar kota dengan uang 34.000 rupiah kan?) So, berdua dengan seorang sahabat saya dibonceng dengan Vezpa keliling Jakarta di tengah malam.

Untuk para pencari inspirasi, Jakarta di malam hari lebih bersahabat di banding ketika siang, yang penuh kemacetan, polusi, kebisingan. Udara malam di Jakarta pada bulan Februari selalu sejuk. Entah kenapa saya bersama sahabat saya adalah seorang pecinta Circle K, setelah memutari Jakarta kita berhenti di kios Circle K di dekat rumah dan membeli, kripik Lays, dan es krim.Sahabat saya nanya, “Udah dapet inspirasi”. Sambil menikmati es krim saya bilang, “udah mulai dateng ide-ide niy”

Menulis adalah berkah dan kutukan untuk saya. Ada masa dimana saya sangat mencintai menulis (seperti sekarang ini), tapi ada juga masa dimana saya benci menulis sampai muak liat alphabet, laptop, kertas, pulpen, lampu baca, hingga jari-jari saya sendiri (seperti malam-malam di Circle K itu) The Will to Write datang dan pergi secara misterius. Hingga detik ini saya masih berhutang beberapa manuskrip ke penerbit, maav yah… But, marilah kita bersuka ria, karena malam ini, tanpa harus berobat ke Circle K saya sedang bergairah untuk menulis!!!

Menjelang Valentine’s day dan Hari Raya Nyepi, order menulis menumpuk. Panggilan seminar juga mulai ramai, dari audiensnya yang remaja hingga pendeta juga ada… Yang terberat adalah menulis makalah atau hand out yang baik. Tentunya, saya tidak ingin mengecewakan para peserta seminar. Maka selama dua hari ini, pada siang hari saya mengurung diri di kamar. Duduk di depan laptop, membuka buku, dan riset di internet. Pada malam hari menjelang pukul sebelas, kaki saya akan mulai sakaw untuk menghampiri Circle K. Ajaib, 5 menit berada di Circle K, melewati baris-baris snack-nya, saya langsung kebanjiran ide, segera dengan tergopoh-gopoh saya meluncur pulang untuk mengetik.

Jadi teman-teman, jangan heran di suatu malam kita bersua, dan saya sedang menggunakan piyama dengan wajah yang bingung mencari inspirasi di Circle K. Kalau saya tersenyum, berarti inspirasi itu sudah datang, kalau masih berkerut dahi, maka butuh waktu lebih lama mondar-mandir di Circle K. Blog ini sekaligus menjadi permohonan maaf atas tersendat-sendatnya posting blog di friendster saya. Hiks.. banyak yang protes di inbox mail saya, maaf yah…

Jadi teman-teman, pernah stuck dalam mencari inspirasi???? Please share ide-ide kamu disini. Percayalah, komentar kamu benar-benar menjadi bacaan favorit saya.

Love you all,

Salam Sejahtera.

Dec
15
Filed Under (My Stories) by sarasdewi on 15-12-2008

Dear sahabat-sahabatku yang setia bertamu dan menyapa di blog ini, blog kali ini nggak usah bicara filsafat yah… Alih-alih, mari kita bicara tentang musik.. Banyak yang nanya, playlist apa aja sih yang ada di I Pod saya? (sambil ngutak-ngutik I Pod)

Saya tipe orang yang kalau suka lagu tertentu, maka lagu itu bisa diputer sampai jutaan kali. Sampai bikin orang2 disekeliling kesel dan protes, hehehehe. Saya juga tipe orang yang terbuka dengan segala jenis musik. Kekasih saya suka komplain bahwa saya tidak memfilter musik-musik yang saya konsumsi, katanya sih mempengaruhi musikalitas saya dalam membuat lagu, anyways, Yas gak pernah terlalu peduli. Cita rasa dan selera kan misteri dari subjektivisme yah, sampai detik ini masih muter Goyang Kerawang di I Pod, bwahahahaha, screw gengsi :P
Musik apa aja yang ada di I Pod Yayas, of course selain Lilis Karlina n Uut Permatasari (khukhukhu)

Shakira– vital untuk orang yang hidup untuk melompat, memutar dan menari seperti saya, favorit saya adalah La Tortura.

Beyonce–amazing artist, musiknya unik n jujur, paling nggak pernah bosen ngedengerin Crazy in Love, sambil niru oh oh oh oh o no no 

John Mayer–pria ini adalah satu-satunya gitaris yang saya gandrungi selain kekasih saya. Lagu yang paling membuat saya terhenyak adalah Gravity.

Jason Mraz–Aduh, Yas gak tahan denger liriknya, please, so beautiful, lagu I’m Yours tuh so simple yet so powerful!

5 For Fighting–ini lagu kenangan saya dengan orang yang saya cintai, 100 years adalah lagu anthem kami :)
Jangan tertipu dengan lagu-lagu pop diatas, karena playlist yang satu lagi lebih absurd n gak nyambung…

AC/DC–bener kan nggak nyambung, jadul but so electrifying apalagi lagu Back in Black.

System of a Down–I know, so hard for people to imagine that I listen to this metal band, my fave is Toxicity

The Rolling Stone–let’s take a walk in the wild side, I dance to ‘Satisfaction’

Creed–need I say more?? this ex-christian band is awsome!!! Coba dengerin ‘No reason to hide’

Slipknot–Before I Forget, sumpah masih suka speechless sampai sekarang kalau denger lagi ini..

Metallica–Bingung yah? Apalagi I really love James Hetfield, dengerin Sad But True deh..

Selanjutnya di playlist Yas adalah my guiltiest pleasure, lagu yang disebelin karena over-exposed, but still I can’t get enough of them!

d’Massive–kalau denger lagunya bisa nangis-nangis sendiri hahahahaha

Britney Spears–Jgn kritik Britney dong!! Yas n adik-adik yayas adalah Die Hard Fans! selalu happy tiap denger lagu Toxic.

Naff–”Jauh di lubuk hatiku, masih terukir namamu…” so lovely..

Shah Rukh Khan–Kuch kuch hota hei, please no comment on the great Shah Rukh ya..

Sedangkan selanjutnya adalah lagu-lagu yang lebih misterius, intens, dan merupakan sumber seluruh tulisan filsafat saya. Disaat mendengarkan lagu-lagu inilah saya produktif berimajinasi dan menulis.

Stevie Ray Vaughn–gorgeous sound of blues music, coba denger, Leave My Girl Alone, and Crossfire

Toto–so sublime lagunya yang berjudul ‘Lea’

311–I miss the ocean setiap denger Amber

Coldplay–their songs save my life, khususnya lagu Fix You..

last and never least…..

ANGELS AND AIRWAVES, lagu yang I truly adore adalah ‘Good Day’ dari album We don’t need to whisper. Lagu2 mereka buat saya bertahan menulis thesis yang panjang dan berat itu… Apalagi Call to Arms, no words to describe their soulful music.

So ini adalah sebagian kecil dari ribuan lagu yang ada di I Pod, please share your song lists with me. Yas kepingin banget denger lagu2 apa aja yang kasih dampak besar dalam hidup teman-teman. Waiting for your comments okey :)
God Bless You!

Love, yayas.

Nov
20
Filed Under (Religion) by sarasdewi on 20-11-2008

Salam damai dan sejahtera sahabat.

Hari Rabu lalu saya mendapat kesempatan langka untuk bicara di hadapan pendeta-pendeta dari Persekutuan Gereja Indonesia. Bersama dengan saya di podium adalah seorang tokoh muslim yang sangat saya kagumi yaitu, Gus Nuril. Untuk mereka yang selalu intens mengikuti perkembangan gerakan kemanusiaan di Indonesia pasti tidak akan asing mendengar nama ini. Aktivitas Gus Nuril tidak pernah lepas dari perjuangan nilai-nilai HAM di Indonesia, khususnya mengenai kemerdekaan dan kebebasan beragama.

Ada yang unik dari Gus Nuril, ia selalu menyampaikan konsep perdamaian dengan bahasa yang lugas dan terkadang penuh dengan anekdot. Mungkin ini suatu tradisi ulama NU yah… Beliau sangat humoris :) Gus Nuril mencoba menunjukan bahwa meski didera problem yang berat, kita tetap harus berpikir positif dan terus berusaha untuk yang terbaik.

Gus Nuril mengawali ceramahnya dengan menyanyikan satu Mazmur dari Injil. Hal ini benar-benar membuat saya tersentuh, bahwa luasnya pengetahuan beliau mencerminkan kepribadiannya yang menghargai keberagaman dalam memeluk keyakinan. Ia mengucapkan shalom terlebih dahulu, baru disusul dengan Assalammualaikum. Gestur-gestur kecil, namun untuk saya sangat inspiratif.

Gus Nuril berbagi pengalamannya tentang perayaan Natal di Semarang. Bagaimana setiap pagi hari di hari Natal ia selalu menugaskan santri-santrinya untuk membantu para umat nasrani untuk membersihkan gereja. Selain itu ia juga mengerahkan banser-banser NU dari pondok pesantrennya untuk menjaga gereja-gereja ketika menyelenggarakan kebaktian. Bahkan Gus Nuril tidak mengeluh ketika dirinya dihujat FPI, santrinya dipukuli FPI di silang monas, baginya justru ia merasa sedang berjihad ketika sedang melindungi mereka yang lemah.

Saya menjadi optimis setiap bertemu dengan ulama yang peka terhadap pluralisme seperti halnya Gus Nuril. Saya termotivasi untuk terus berjuang tanpa gentar dan rasa takut.

Gus Nuril bercerita juga bahwa terkadang ia mengundang tokoh-tokoh non-muslim untuk berceramah selepas sholat Jum’at di pondok pesantrennya. Sebaliknya ia juga merasa senang apabila diundang berkhotbah ke gereja. Ia memandang agama seharusnya menjadi perekat kerukunan antar manusia, bukan menjadi sumber konflik. Kerukunan ini dapat terjadi apabila ada suatu komunikasi antar iman, yang terbuka, jujur dan penuh empati. Hanya melalui keyakinan dan kesungguhan semacam inilah maka perdamaian akan terwujud.

Sebelum beranjak pulang saya minta berfoto dengan Gus Nuril (ini foto yang kedua kalinya loh…) Maklum, orang lain bisa mengidolakan Ariel Peter Pan, atau Fachri Albar, kalau saya fanatik dengan Gus Nuril hihihihihi.

Melengkapi kebahagiaan saya, sepulang dari acara PGI di Cipayung saya menerima sms dari Gus Nuril,

“Saya sudah mau naik pesawat ke Semarang, semoga Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa mengaruniaimu dengan derajat yang luhur. Berbahagialah keluarga yang memiliki ratna secemerlang engkau. Aum Swastiastu.”

Di momen seperti ini saya merasa hidup itu penuh dengan kemungkinan akan perubahan yang lebih baik. 

Aum Swastiastu, Gus…

Nov
08
Filed Under (Religion) by sarasdewi on 08-11-2008

Syukurlah karena keadilan telah ditegakan dan tiga terpidana mati, Amrozy, Ali Gufron dan Imam Samudera telah dihukum mati. Selepas 5 tahun menanti realisasi dari ketukan palu di meja hakim pengadilan negeri Denpasar (2003), akhirnya pukul 00.16 tadi saya bisa melepaskan tangisan lega.

Betul saya mendukung hukuman mati dari Amrozy Cs, dan saya tidak tertutup mengenai hal tersebut. Tetapi satu hal yang perlu ditekankan, hukuman mati yang dijatuhkan kepada mereka bukanlah hukuman yang istimewa. Di mata saya mereka adalah kriminil. Bukan pahlawan agama seperti yang dielu-elukan beberapa kelompok fundamentalis. Bagaimana tidak, membunuh 202 orang yang sedang menjalani liburan bukanlah suatu tindakan heroik. Untuk saya justru tindakan tersebut adalah perbuatan seorang pengecut. 

Ibu saya yang seorang muslim ikut bersyukur mengucapkan ‘Alhamdullilah’ karena keadilan telah ditegakan meski menghadapi hadangan politis dari berbagai pihak. Ibu saya menasehati saya bahwa, Islam yang ia hayati sama sekali tidak bersuka ria diatas pembunuhan terhadap 202 orang tersebut. Tindakan mereka justru menyakiti agama Islam, dan membawa citra buruk untuk Islam.

Saya teringat dengan kesaksian yang diberikan oleh Haji Agus Bambang yang disampaikan dengan derai air mata di Denpasar 2003 silam, ”Pemandangan ini yang membuat saya sedih. Saya tak habis pikir kenapa daerah kami dibuat begini, apa salah kami. Dan saya berdoa agar tidak pernah terjadi lagi. Perbuatan ini kejam dan biadab,” Selanjutnya ia berkata bahwa sebagai Muslim ia merasa bahwa peledakan Kuta yang dilakukan komplotan Amrozy CS, tidak layak dikatakan sebagai jihad menuju Surga. 

Masih kental di ingatan saya, horor yang terjadi malam pengeboman di Kuta, Legian. Darah, jeritan tangisan, dan panas yang menyesakan dada. Meski seminggu kemudiannya umat Bali melaksanakan doa penyucian, dan mengikhlaskan musibah tersebut, tetapi duka dan trauma tetap menghantui hingga tahun-tahun berikutnya. Dengan menggunakan t’shirt ‘F*ck Terrorism’ saya ingat sekali, meski terluka, dan pedih, umat Bali dari berbagai latar belakang etnis, ras, dan agama tetap optimis untuk membangun Bali kembali.

Untuk saya siapa Amrozy, Imam Samudra dan Gufron sudah jelas, mereka adalah pembunuh berdarah dingin yang ingin menjadikan dunia kita kacau dan sarat akan konflik. Tetap saya berdoa kepada sanak keluarga mereka yang ditinggalkan semoga dilimpahi ketabahan.

Memang keadilan tidak mudah, dan butuh keberanian untuk mengatakan apa yang dibisikan hati nurani kita. Doa saya kepada Indonesia, untuk tetap memegang suara nuraninya sebagai pedoman kehidupan damai dan harmonis. 

Hari ini saya sangat optimis :)

Nov
05
Filed Under (Travel) by sarasdewi on 05-11-2008

“Aku telah pulang

demikian aku sisipkan ke belantara hutan

pantai di karangasem bersiul-siul malas

Bila aku bidadari

disinilah surgaku

dimana lembah bermanjaan ditudungi awan

nyiur hangat merayu-rayu”

 

Salam Sejahtera sahabatku, lama sekali tidak jumpa, semoga dalam keadaan sehat dan selalu berada di dalam lindungan Tuhan. Baru satu jam yang lalu saya mendarat di Jakarta. Sebelumnya saya berada di Bali untuk mengajar di Universitas Hindu di Penatih, Bali, untuk menyanyi bersama band Netral dan mendiskusikan tentang UU Pornografi.

Sungguh bahagia setiap kali saya berkesempatan untuk menengok kampung halaman. Jakarta memang selama 10 tahun ini telah menjadi rumah kedua untuk  saya, tetapi, jujur, jiwa dan kerinduan saya selalu untuk Bali. Ada yang istimewa tentang Bali, entah itu adatnya, masakan nenek, sungainya, pantainya, musiknya, keramahannya, mataharinya… Saya tidak bisa menentukan apa yang paling membuat Bali istimewa. Intinya, suasana atau atmosfir dari Bali sungguh-sungguh unik.

Mohon maaf apabila saya ke Bali, saya tidak puas dengan hanya berjalan-jalan di promenade Kuta. Walaupun begitu hingar bingar dari Kuta membuat jantung saya terpompa dengan adrenalin. Suasana menyanyi di Balipun sangat lepas, penonton bersorak sorai dengan suasana pesta. 

Demi mengisi kehampaan yang begitu mendalam terhadap Bali, saya menjalani hari-hari dengan menyisiri setiap daerah (Bali selatan, timur, utara, maupun barat). Menyantap hidangan-hidangan desa yang disiapkan oleh pedagang-pedagang kecil. Tidur diantara alang-alang dan membiarkan matahari menyengat tubuh. Inilah Bali yang sesungguhnya. Bukan Bali resort bintang lima, atau daerah vila-vila gemerlap di Seminyak.

Baliku masih sederhana dan tradisional. Penuh dengan harum tanah dan dupa.. Melewati Sanur, kemudian menuju Karangasem, terkesima dengan kota Amlapura, kemudian terhanyut di Candi Dasa. Membiarkan wajah tersapu angin ketika menjulurkan kepala dari mobil, menyimak daerah2 seperti Kubu, Tulamben dan Amed, yang bergulir sangat lamban. Orang-orangnya tidak peduli waktu, hari, apalagi janji temu. Sungguh indah..

Saya menyantap plecing kangkung, dan menyesap anggur putih Hatten, meskipun terletak di pedalaman Karangasem, saya masih diberkahi dengan es krim stramberry. Lengkap sudah kenikmatan hari itu…

Sore harinya saya mengajar Filsafat di Universitas Hindu, sangat menyenangkan untuk berfilsafat dan melakukan kontemplasi di pulau Bali. Waktu Socrates mengatakan ‘Know Thy Self’, saya baru mengerti ketika saya berada di Bali. Ternyata Bali adalah fragmen dari diri saya… Memahami ini membuat saya mengenali diri saya sendiri. Tentang pentingnya tradisi, warisan leluhur, dan ‘innocence’ I feel so innocent…

Ini cinderamata dari pulau dewata. Semoga teman-teman terinspirasi, untuk mengunjungi dan jatuh cinta dengan Bali.

God Bless You…

Jul
02
Filed Under (Philosophy) by sarasdewi on 02-07-2008

Jika Spinoza benar, maka tidak saja air mata itu sia-sia tetapi juga irelevan. Spinoza mengatakan bahwa segala sesuatunya di alam ini sifatnya deterministik. Tidak sekedar hukum-hukum alam seperti gravitasi, maupun ekuasi matematis. Intinya dunia di desain sedemikian rupa dengn aturan-aturan (limitasi) yang distinktif. Teori Spinoza ini dikenal sebagai ‘hard determinism’. Pandangan determinisi keras ini berimplikasi terhadap apa yang kita sebut sebagai kehidupan. Ia menganggap bahwa manusia tidak memiliki free will. Bahwa apa yang disebut sebagai konsep kehendak bebas sangat berlawanan dengan kerangka determinisme (alam).  Kehendak bebas adalah ilusi, suatu figmen imajinasi yang dibentuk oleh psyche manusia agar memberikan sejenak rasa kuasa. Rasa dominasi diatas hidup yang terus menggerus.

 

 

Nyatanya, sekalipun Spinoza benar, manusia akan selalu menangis. Menangisi kejadian-kejadian di dalam hidup yang berjalan tidak sesuai dengan harapan maupun rencana kita. Tangisan kita sepertinya hanya menjadi semacam protes yang sayup di hamparan alam semesta yang luas. Dimana tangisan itu tidak merubah apapun, maupun memperbaiki sesuatu. Alam, sudah memberikan format bagaimana kehidupan ini akan berlangsung. Hari esok akan tetap tiba sebagaimana eksistensialitas jiwa kita menolak masa depan. Itu hanya fakta keras yang tidak dapat kita kesampingkan.

 

 

Kalau begitu, mengapa menangis, bila secara naturalistik, tidak ada hal yang relevan untuk ditangisi? Spinoza mungkin mencorat-coret teori ini di dalam kamarnya sambil menenggak setengah botol vodka, dengan harapan bahwa mengakui superioritas alam akan mendamaikan rasa tidak puasnya dengan kondisi fisiknya yang lemah. Ia lemah, sakit, sebatang kara dan terasing. Di tangannya hanya tersedia tumpukan kertas berisikan teori-teori yang ia jadikan sebagai tempat suakanya. Tapi, hey, ini toh hanya suatu interpretasi. Mungkin metode menjadi budak terhadap alam adalah obat yang mujarab bagi seorang bujangan kesepian seperti Spinoza.

 

 

Tapi untuk saya? Saya menangis, meski sepertinya melelahkan untuk menangis dan berduka. Karena tidak saja kesusahan datang terlampau mendadak, ia juga datang bertubi-tubi. Bila sebagian dari anda melewatkan kesedihan, dengan mengitari kota, menghabiskan minuman keras, merokok, menaiki roller coster hingga mual, menghamburkan uang demi produk yang sama sekali tidak esensial, merobek, membakar, ataupun berteriak. Bagi saya, saya hanya butuh 2 menit (atau 2-3 bulan, tidak pernah ada aturan yang absolut) untuk menangis seorang diri, menulis, menangis lagi, kemudian menulis. Meski jauh di dalam lubuh hati tertancap apa yang dikatakan oleh Spinoza, bahwa apapun yang diperbuat tidak akan merubah apa yang dimaksudkan untuk terjadi. Perpisahan, kematian, kehilangan, pengkhiantan, maupun kegagalan. Air mata tidak akan menghapus fakta-fakta itu.

 

 

Terkadang saya katakan, “mustahil kali ini saya akan menangis..” Tetapi sebaliknya ternyata hati masih menangis. Meski otak seorang filosof dilatih untuk mengantisipasi kejadian-kejadian seperti ini, tetap saja, siapa yang bisa menduga arah dari kemauan hati. Ia ingin menangis, detik ini, di tempat ini. Tentunya, kita hanya bisa mengusap air mata sambil berkata, “begitulah hidup.”