Jun
22
Filed Under (Philosophy) by sarasdewi on 22-06-2006

Sebagian dari kita enggan berubah, takut terhadap perubahan dan seringkali menghindari perubahan. Kemapanan adalah kondisi ideal. Keteraturan adalah cita-cita sebagian besar manusia.

Chaos_theory Edward Norton Lorenz dalam karyanya ‘The essence of Chaos’ menjelaskan bahwa manusia selalu berupaya memetakan kekacauan, dan mempolakan setiap potensi perubahan. Itulah keputus asaan kita sebagai manusia. Fiksasi kita untuk mencapai ‘order’.

Personally, saya tidak ingin kelelahan mencapai order, atau berupaya setengah mati untuk membangun suatu struktur yang mungkin tidak benar-benar ada.

Mungkin hanya fiksi intelegensia manusia saja, idea tentang kenyamanan dan kepastian di dalam kondisi order.

Nyatanya perubahan adalah momentum yang sangat berharga, perubahan adalah syarat kemanusiaan. Herakleitos pernah berkata ‘Panta Rhei’, bahwa segala sesuatunya selalu berubah. Perubahan adalah riil sedangkan stabilitas ada delusi.

Delusi kerap menyengsarakan, untuk sesaat sensasi mengejar khayalan memang memuaskan, namun sesaat kemudian ketika kita menyadari bahwa ilusi bertempat di ranah imajinasi kita, kita terjerembab dalam kesengsaraan.

Filsafat perubahan mengajarkan kita tentang metamorfosa, bahwa kondisi natural dari kehidupan adalah evolutif.  Perubahan juga mengandaikan adanya kesempatan-kesempatan.

Tanpa kesempatan itu mungkin manusia tidak akan pernah sungguh-sungguh belajar. Bila kita berada di dalam kepompong, bukankah luar biasa untuk bisa keluar dan menikmati keasingan hidup?

Jun
11
Filed Under (Uncategorized) by sarasdewi on 11-06-2006

Dear teman2, tanggal 20 Juli 2006 Yayasan Hindu Dharma akan launching album barunya di Garuda Wisnu Kencana, Pecatu, Bali. Lagu2 di album ini dinyanyikan oleh para penyanyi Bali, dengan musik yang diaransemen oleh Budjana. Pokoknya albumnya keren banget! Saya menyanyikan satu track dengan judul ‘Selalu di JalanNya’ berduet dengan Agus Angga. Selain itu ada lagu2 dari Trie Utami, Ayu Lakshmi, dll. Must have album! take care n keep on posting me :)

GBU

Jun
06
Filed Under (Philosophy) by sarasdewi on 06-06-2006

“Beauty gives you super power” demikian ucap sang narator iklan sabun kecantikan. Dengan Beauty, sambungnya, “serasa di puncak dunia, membuka semua pintu, membuat semua tertunduk, tunjukan keberanianmu”.

Memang ‘the cardinal rules’ dari segala paham pemasaran adalah menjual janji dan imej. Tidak terkecuali dengan iklan yang sedang dibicarakan, memang di dalam hukum pasar, apapun dapat dilakukan demi menstimulasi penjualan dan merangsang ‘demand’. Statistik menunjukan bahwa sebagian besar kelompok konsumen adalah perempuan, khususnya usia 18 sampai 30 tahun. Itu menjelaskan mengapa setiap slot iklan di televisi menayangkan produk-produk yang diperuntukan bagi kaum perempuan, busana, produk pemutih kulit, sabun pelembut kulit, dll. Bersamaan dengan gencarnya penayangan iklan-iklan tersebut, timbul pula kecenderungan simbolisme kecantikan yang ditonjolkan.

Kecantikan sinonim dengan fisikalitas yang langsing, berkulit putih, dengan rambut hitam berkilau. Inilah ikon kecantikan kita. Kesempurnaan bukan lagi suatu utopia, tapi suatu keharusan. Di dalam pencitraan ini, perempuan memiliki standar kecantikan. Standar yang otoriter, diktatorial, dan monologis. Kriteria yang tidak realistik inilah yang harus dipertanyakan oleh kaum perempuan abad postmodern. Benarkah ini definisi kecantikan? Atau ‘agen dari budaya yang misoginistik’? Yang selalu berupaya menyeragamkan perempuan, seperti manekin yang berpose hampa di etalase toko. Inikah kecantikan?

Kecantikan ‘Bourgeoisie’ ini memang kecantikan yang ter’stereotipikal’kan. Kecantikan yang tunduk pada kaidah grand narasi kesempurnaan tersebut. Kaidah inilah yang memperbudak perempuan, yang menyebabkan 80% dari remaja di dunia menderita bulimia (eating disorder).

Bukankah menjemukan apabila setiap perempuan diciptakan berpostur dan berwarna sama. Di dalam feminis multikultural, uniqueness is beauty. Itu mengapa perempuan yang hidup di dunia nyata (bukan perempuan di dalam pencitraan sabun kecantikan), berseru ‘Hallelujah!’ ketika Beyonce Knowles mencuri ’spotlight’ dunia. Dia tidak kurus (bahkan dia selalu membanggakan bokongnya yang bootylicious), dan dia tidak berkulit putih porselen.

Konyol sekali bila melihat iklan pemutih wajah, mengapa harus putih, apakah berkulit putih menunjukan suatu keindahan yang superior dibanding yang tidak. Bukankah kita berkebudayaan yang sadar akan kesetaraan, sedangkan iklan-iklan obat pemutih tersebut cenderung mengidealisasikan ras tertentu. Bukankah itu rasime untuk mengatakan bahwa ada superioritas ciri-ciri biologis dalam konsep keindahan dan kecantikan? Bagaimana kesempatan saudara-saudara perempuan kita di Irian Jaya untuk menjadi cantik?

Mari untuk sejenak kita telaah, benarkah kecantikan memberikan kita tenaga super. Bila kecantikan yang dimaksud semata-mata berkriteria ragawi, dan merujuk pada slogan iklan yang misoginistik, bisa ditekankan bahwa paham kecantikan tersebut begitu ‘retarded’ atau kerdil.

Kecantikan dan keindahan yang sesungguhnya (wholesome beauty) adalah milik individu masing-masing, yang melampaui aturan maupun batasan-batasan dari media. Memang menjadi cantik membuat perempuan merasa di puncak dunia, tapi puncak itu hendaknya dicapai dengan kenyamanan dan kedamaian hati. Memang kecantikan dapat membuka semua pintu, tetapi kecantikan yang swanyata (self-evident) tersebut harus memiliki ruh pengetahuan. Memang kecantikan dapat membuat semua tertunduk, tapi bukan kecantikan yang arogan, tapi kecantikan yang bersahaja.

Hal yang perlu dimengerti adalah, anda tidak perlu menyiksa diri demi mencapai absurditas standar kecantikan tersebut. Setelah membaca blog ini anggap saja standar tersebut nihil, karena kriteria kesempurnaan tersebut merampas kebebasan anda untuk menjadi seorang perempuan yang unik.