“Beauty gives you super power” demikian ucap sang narator iklan sabun kecantikan. Dengan Beauty, sambungnya, “serasa di puncak dunia, membuka semua pintu, membuat semua tertunduk, tunjukan keberanianmu”.
Memang ‘the cardinal rules’ dari segala paham pemasaran adalah menjual janji dan imej. Tidak terkecuali dengan iklan yang sedang dibicarakan, memang di dalam hukum pasar, apapun dapat dilakukan demi menstimulasi penjualan dan merangsang ‘demand’. Statistik menunjukan bahwa sebagian besar kelompok konsumen adalah perempuan, khususnya usia 18 sampai 30 tahun. Itu menjelaskan mengapa setiap slot iklan di televisi menayangkan produk-produk yang diperuntukan bagi kaum perempuan, busana, produk pemutih kulit, sabun pelembut kulit, dll. Bersamaan dengan gencarnya penayangan iklan-iklan tersebut, timbul pula kecenderungan simbolisme kecantikan yang ditonjolkan.
Kecantikan sinonim dengan fisikalitas yang langsing, berkulit putih, dengan rambut hitam berkilau. Inilah ikon kecantikan kita. Kesempurnaan bukan lagi suatu utopia, tapi suatu keharusan. Di dalam pencitraan ini, perempuan memiliki standar kecantikan. Standar yang otoriter, diktatorial, dan monologis. Kriteria yang tidak realistik inilah yang harus dipertanyakan oleh kaum perempuan abad postmodern. Benarkah ini definisi kecantikan? Atau ‘agen dari budaya yang misoginistik’? Yang selalu berupaya menyeragamkan perempuan, seperti manekin yang berpose hampa di etalase toko. Inikah kecantikan?
Kecantikan ‘Bourgeoisie’ ini memang kecantikan yang ter’stereotipikal’kan. Kecantikan yang tunduk pada kaidah grand narasi kesempurnaan tersebut. Kaidah inilah yang memperbudak perempuan, yang menyebabkan 80% dari remaja di dunia menderita bulimia (eating disorder).
Bukankah menjemukan apabila setiap perempuan diciptakan berpostur dan berwarna sama. Di dalam feminis multikultural, uniqueness is beauty. Itu mengapa perempuan yang hidup di dunia nyata (bukan perempuan di dalam pencitraan sabun kecantikan), berseru ‘Hallelujah!’ ketika Beyonce Knowles mencuri ’spotlight’ dunia. Dia tidak kurus (bahkan dia selalu membanggakan bokongnya yang bootylicious), dan dia tidak berkulit putih porselen.
Konyol sekali bila melihat iklan pemutih wajah, mengapa harus putih, apakah berkulit putih menunjukan suatu keindahan yang superior dibanding yang tidak. Bukankah kita berkebudayaan yang sadar akan kesetaraan, sedangkan iklan-iklan obat pemutih tersebut cenderung mengidealisasikan ras tertentu. Bukankah itu rasime untuk mengatakan bahwa ada superioritas ciri-ciri biologis dalam konsep keindahan dan kecantikan? Bagaimana kesempatan saudara-saudara perempuan kita di Irian Jaya untuk menjadi cantik?
Mari untuk sejenak kita telaah, benarkah kecantikan memberikan kita tenaga super. Bila kecantikan yang dimaksud semata-mata berkriteria ragawi, dan merujuk pada slogan iklan yang misoginistik, bisa ditekankan bahwa paham kecantikan tersebut begitu ‘retarded’ atau kerdil.
Kecantikan dan keindahan yang sesungguhnya (wholesome beauty) adalah milik individu masing-masing, yang melampaui aturan maupun batasan-batasan dari media. Memang menjadi cantik membuat perempuan merasa di puncak dunia, tapi puncak itu hendaknya dicapai dengan kenyamanan dan kedamaian hati. Memang kecantikan dapat membuka semua pintu, tetapi kecantikan yang swanyata (self-evident) tersebut harus memiliki ruh pengetahuan. Memang kecantikan dapat membuat semua tertunduk, tapi bukan kecantikan yang arogan, tapi kecantikan yang bersahaja.
Hal yang perlu dimengerti adalah, anda tidak perlu menyiksa diri demi mencapai absurditas standar kecantikan tersebut. Setelah membaca blog ini anggap saja standar tersebut nihil, karena kriteria kesempurnaan tersebut merampas kebebasan anda untuk menjadi seorang perempuan yang unik.
