Anda mungkin berdecak melihat judul tulisan ini, dan pertanyaan yang timbul di benak anda adalah, apakah hewan memang layak memiliki hak? Pre-justifikasi yang muncul adalah, apakah topik hak untuk hewan sesuatu yang urgen bagi manusia?
Pioner perjuangan untuk hewan terjadi pada tahun 1824 di Inggris, organisasi mereka dinamakan “Society for the Prevention of Cruelty to Animals”. Sedangkan perjuangan yang lebih modern terjadi pada tahun 1970 dengan lahirnya diskursus-diskursus yang menentang kekerasan terhadap hewan. Tokoh-tokoh modern termasuk, Dr Richard D. Ryder, seorang psikolog yang pertama kali menyebutkan diskriminasi berdasarkan spesies, yaitu ‘Speciesism’.
Atas alasan agama, dan keistimewaan manusia, maka kerap terjadi mispersepsi tentang hak-hak manusia dalam mengolah bumi beserta sumber dayanya. Spesies Homo Sapiens dianggap memiliki superioritas kelebihan yang memperbolehkannya mengeksploitasi alam dan hewan, inilah maksud dari Speciesism. Misalnya di dalam alkitab dituliskan;
“Berfirmanlah Allah; (…) manusia berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan diatas ternak dan atas seluruh bumi dan diatas segala binatang melata yang merayap bumi” Kitab Kejadian ayat 1:26
Berdasarkan dari penyimpulan ayat ini maka seringkali manusia menganggap bahwa kekuasaan yang dimaksud adalah suatu hak untuk mengeksploitir alam. Padahal bila kita telaah kembali, “Great power requires great responsibility”, pemberian kekuasaan terhadap manusia adalah suatu simbol bahwa manusia sudah kewajibannya menjaga dan melestarikan alam, bukan merusaknya.
Dikatakan juga di dalam Injil Amsal ayat 12:10, “Bahwa orang bijaksana selalu memperhatikan hewannya”, begitu juga di dalam Al-Qur’an;
“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat juga seperti kamu” Al-Anam:38
Pandangan agama memang mengidealisasikan keseimbangan di alam semesta, pembantaian terhadap hewan seringkali diatas namakan atas kesejahteraan manusia. Itulah pembenaran yang selalu digunakan, bahwa dikarenakan kebutuhan manusia maka hewan harus dikorbankan. Tapi harus diteliti kembali, apa batasan antara nesesitas dan kemewahan. Nesesitas (al-masalih ad-darurfyah) adalah keadaan dimana manusia terdesak kesejahteraannya, sedangkan di dalam Qur’an haram hukumnya untuk membunuh demi kemewahan (al-Masalih at tahsiniyah).
Diluar dari justifikasi agama, tokoh-tokoh filsafat seperti Jeremy Bentham dan Arthur Schopenhauer seringkali menjadi advokat perjuangan hewan. Menolak pandangan Rene Descartes yang mengatakan bahwa ketidak mampuan hewan berbahasa dan menjalankan rasio maka menunjukan bahwa hewan tidak merasakan kesengsaraan. Bentham membantah dengan mengatakan putusan Cartesian sama sekali melalaikan pesan universalitas dari kemanusiaan; “Akan tiba waktunya dimana kemanusiaan akan melebarkan jubahnya untuk melindungi setiap makhluk yang bernafas”. Bila Rene Descartes masih hidup alangkah terkejutnya ia terhadap penelitian terbaru yang menyatakan bahwa anjing memiliki IQ/intelegensia setara dengan anak berusia 1 tahun.
Gerakan perlawanan atas kekerasan terhadap hewan bukanlah gerakan emosional, tapi suatu gerakan yang rasional, yang menyadari esensi dari kemanusiawian. Apakah manusiawi untuk menguliti tupai, kelinci, anak sapi, dan anjing sebagai bagian dan industri FASHION? Atau menguji coba hewan demi shampoo, mascara, lipstick, atau produk-produk kimiawi lainnya.Ini bukan propaganda seorang Vegetarian, tulisan ini hanya ingin menggugah anda berpikir kembali tentang posisi hewan di mata manusia.
Pada tahun 2000 saya berpartisipasi dalam demonstrasi yang menuntut Kebun Binatang Ragunan untuk memperlakukan hewannya dengan hormat dan kasih sayang, (meski kami berdemonstrasi hanya 10 orang), kini semoga semakin banyak komunitas yang mulai mengajarkan kepekaan terhadap hewan.
Manusia harus tetap menjadi wakil bagi mereka yang tidak bisa berbicara, menjaga ekosistem mereka dan menjamin keseimbangan alam semesta ini. Sehingga perusahaan seperti Colgate, Gillete, Johnson&Johnsons, L’Oreal, Oil of Olay, Pantene dan Unilever tidak lagi menyiksa dan menguji coba anak-anak kucing demi menjual produknya yang tidak manusiawi. Begitu juga rumah mode Fendi, yang membunuh hampir 10.000 anjing dan kucing (pabriknya di Cina Selatan) untuk dikuliti dan dipertontonkan di ‘fashion runways’. Ditambah lagi kekerasan pada hewan demi kepuasan berburu, macan, badak bercula satu, simpanse, Orang Utan, Gorilla, yang eksistensinya semakin langka.
Anda memiliki kekuasaan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Diatas segala argumentasi agama maupun filsafat, anda dapat selalu berpulang kepada hati nurani anda dan melawan kesewenangan terhadap hewan. Lagipula bukankah itu kewajiban dalam eksistensi kita sebagai manusia.
Untuk literatur lainnya, kunjungi;
atau baca literatur dari Mary Midgley, Tom Reagan, dan Peter Singer.