Oct
30
Filed Under (Uncategorized) by sarasdewi on 30-10-2006

250pxbyakuya_1 Are you an anime addict??? Kalau iya, what’s your favourite?? The image on the left is Kuchiki Byakuya salah satu tokoh dalam serial anime berjudul Bleach. Bleach berkisah tentang sekelompok shinigami (secara literal Dewa Kematian) yang bertugas menegakan kebenaran dan menjaga keseimbangan alam semesta. Musuh dari shinigami ini adalah Hollow (roh-roh jahat) yang secara buas memangsa jiwa-jiwa manusia. Actionnya dahsyat banget!!! karena tokohnya memakai jubah dan berperang dengan pedang samurai yang memiliki kekuatan super. 250pxsenbonzakura_1 My favourite, Byakuya memiliki zanpakutou (pedang pemusnah) yang dinamakan Senbonzakura (secara literal seribu bunga sakura), yang apabila dilepaskan akan menghabisi lawan dengan cara mengurai pedangnya menjadi potongan kecil seperti ribuan bunga sakura yang akan menyerang lawannya dari segala arah! Pokoknya, anime itu membuat dahaga akan ambience fantasi terpuaskan. Ignite our imagination with such magical hypothesis. Hampir 24 jam non stop nonton Bleach (100 episode!) plus punya game PSnya (Bleach 3 Blades Battle), sampai kalau malam suka mimpi jadi Kuchiki Byakuya dan berburu iblis sambil membaca mantra, ‘chire, senbonzakura kageyoshi’ (menyebarlah senbonzakura). Haha namanya juga khayalan, it makes our soul rejoice childishly :) So watch the anime and post me yah!! :) Love u guys! for more info go to www.j-bleach.com atau http://en.wikipedia.org/wiki/Bleach_anime

Oct
24
Filed Under (Uncategorized) by sarasdewi on 24-10-2006

-Tulisan ini ditulis berkenaan dengan Peringatan Bom Bali I dan II-

Dahulu agama hadir sebagai antidote atas barbarisme atau remedium dari ketidak manusiawian, tapi lantas keadaan saat ini dimana manusia diproduksi dan dipersiapkan sebagai bom, membuat kita bertanya-tanya, apakah kita berada di dalam kondisi overdosis? Dimana ambisi, fiksasi dan obsesi kita di dalam agama berbalik mematikan diri kita sendiri.

Wittgenstein selalu berkata, “what we can not say must be pass over in silence”. Frase ini dapat dikatakan sebagai frase yang anti agama, tapi keheningan yang dimaksudkan oleh Wittgenstein mungkin menyiratkan sesuatu yang berbeda. Upaya akan memisahkan dua dimensi rasio dan keyakinan selalu dilakukan oleh para filosof kita. Sebut saja Kant, yang bersusah payah memberikan dua ‘state of nature’, kondisi noumena dan fenomena. Baik Kant, Wittgenstein, maupun Russel berusaha mengatasi problematika antara yang faktual dengan yang numenous. Secara radikal Wittgenstein mengatakan bahwa ‘there is nothing outside language”, begitu juga dengan skeptisisme Russel.

Bertuhan melalui skeptisisme mungkin nampak seperti paradoks dan juga meninggalkan berbagai kesan ambiguitas. Tapi ditengah generasi yang ditimpa konflik dan peperangan, ada semacam ketidak puasan terhadap agama. Sehingga defisiensi ini harus dicari diluar pengertian agama yang dogmatis. Bisakah umat manusia menghayati agama tanpa gagasan tentang pahala atau surga? Atau menjauhi keburukan tanpa ditakut-takuti dengan ajal dan neraka? Gejala-gejala ‘rouge’/membangkang terhadap agama-agama besar nampak dengan lahirnya spiritualitas alternative yang kerap diberi label sekulerisme atau okultisme. Kecenderungan ini menunjukan bahwa ada ‘fatique’ atau kemuakan terhadap kekerasan berbasiskan agama.

            Beragama yang dogmatis menutup segala kemungkinan untuk mengkonteskan kebenaran. Dimana kebenaran-kebenaran tersebut termanifestasi di dalam simbol-simbol kenabian, rumah ibadah, pemuka agama dan tentu saja wahyu. Konstruksi sakralitas inilah yang membuat agama begitu tertutup terhadap perubahan, sementara melawan perubahan seperti melawan hakekat dari kemanusiaan. Atas kondisi clash dikarenakan stagnasi beragama inilah kompartemen yang dimaksudkan Kant menjadi sangat relevan.

            Kritik-kritik ini ingin mendorong lagi kemungkinan-kemungkinan sublimatif dalam berkeyakinan, bayangkanlah bila manusia dapat mengakhiri status quo (bahkan regresi) beragama yang selalu berujung pada darah dan senjata. Pertanyaan akan ‘how to’ inilah yang menjadi teka-teki bagi generasi penuh pertikaian ini. Bagaimana mengolah keberagamaan agar ia tidak eksesif, atau bagaimana cara menyimpan agama menjadi kepemilikan yang sungguh-sungguh privat.

            Seperti yang diucapkan Descartes dalam Meditation bahwa ia mencapai Tuhannya melalui jalan keragu-raguan. Ia ingin menekankan bahwa alangkah alamiahnya untuk menjadi ragu, dan kebenaran akan sungguh-sungguh benderang apabila terus dikejar substansinya. Kekerasan terjadi karena manusia tidak memfasilitasi skeptisismenya dimana partisipasi mereka yang beragama berhenti pada simbolisme dan tradisi, padahal makna beragama lebih dari sekedar formalitas beribadah, tapi suatu hubungan yang integral, sublim dan universal dengan Tuhan. Yang sesungguhnya mustahil diatur maupun dijelaskan dengan kata-kata.