Menjadi kecewa adalah keadaan yang lumrah bagi manusia.
Bahkan Albert Camus terus menyindir mereka para jiwa-jiwa optimistik,
dengan mengatakan, terbiasalah dengan kekecewaan, itulah kenyataan
manusia. Life is absurd, it enslave you. Hidup itu absurd, ia selalu
memperbudakmu. Apakah kita budak dari kehidupan? Kita bergerak
mengikuti kemauan keadaan, kondisi dari keadaan. Upaya merubah menurut
Camus adalah reaksi yang muncul secara insting, tapi amat sia-sia.
Seseorang pernah berkata pada saya, “Ini semua
hanyalah kondisi..” Dengan alasan kondisi kita memaklumi keadaan kita,
kita menerima keadaan kita secara pasrah. Socrates berpesan; “An
unexamined life is not worth living”. Mempercayai generalisme dari
kondisi adalah menjalani kehidupan tanpa kritisisme. Hidup harus penuh
dengan rasa ingin tahu, rasa memberontak, rasa memperbaiki dan ingin
meraih keadaan yang lebih baik. Inilah keutamaan moral dari Socrates.
Ia ingin kita membuat pilihan-pilihan berani. Terlepas dari hasil yang
kita harapkan, kita bisa menjadi puas akan perubahan tersebut, atau
sebaliknya kita kecewa.
Disappointment, kekecewaan hanyalah sebagian kecil dari
perubahan-perubahan yang ingin kita lakukan, grand narasinya adalah,
kita tidak tunduk dengan keadaan. Kita melawan status quo dari
pengkondisian tersebut. Sarte akan menguatkan dengan berkata, dalam
hidup, perisai kita hanyalah harga diri kita, martabat kita sebagai
manusia. Jadilah manusia otentik sambung Heidegger, paham-paham
eksistensialis semacam ini menolak kepasrahan terhadap kondisi. Tanpa
nilai-nilai semacam ini, apa yang selalu digaungkan oleh Darwin, bahwa
kita hanya hewan yang mengikuti hukum evolusi dari alam, menjadi benar.
Tapi kita bukan sekedar
verteberata, atau hewan bertulang belakang, kita mahkluk yang berpikir,
berkehendak, sentimental, kokoh, rapuh, kompleks. Kompleksitas inilah
sesungguhnya petanda-petanda superioritas kita. Manusia ada bukan untuk
mematuhi sistem, ia ada untuk merangkai, membangun, mencipta, dan
melawan sistem. Kita adalah mahkluk yang agresif dan produktif.
Mengapa saya menulis ini? Saya jemu
mendengar alasan-alasan yang mengkambing hitamkan kondisi. Itu alasan
dangkal. Orang yang takut akan perubahan adalah orang yang menjalani
hidupnya tanpa kritisisme dan upaya pembuktian. Seperti seseorang yang
lari dari suatu keadaan dan bersembunyi dibalik kondisi yang telah
membuatnya nyaman. Sahabat saya berkata; “mereka yang lemah adalah
mereka yang membuat komitmen, mengikat diri dalam kontrak, tapi ingkar
dan tidak loyal terhadap ikatan itu” Seperti yang dikatakan Freud,
orang yang neurotis adalah orang yang menukar keberanian dengan
kenyamanan. Hanya demi rasa aman, demi stabilitas semu kita mentolerir
represi.
Maklumi teman-temanku tersayang, saya baru dirundung kekecewaan. Tapi
saya menolak untuk tenggelam dalam kekecewaan tersebut. Bagi anda yang
tengah bergelut dengan situasi yang sama, saya sarankan, beranilah
mengambil putusan, apapun putusan itu. Diatas segala-galanya,
konsistenlah terhadap keputusan itu.
Take care always
God Bless u guys!