12 Mei 2 tahun yang lalu adik saya Nyoman Natalia Dhamantra meninggal akibat gagal jantung. Hingga saat ini sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata bagaimana rasanya kehilangang seseorang yang amat kita cintai. I love my baby sister. She’s the perfect sister. Nataliaku cantik, ramah, sangat penyayang, ia tipe orang yang suka membahagiakan orang lain, murah hati dan jenaka (duh usilnya minta ampun…)
There are too many beautiful memories about her, but my most memorable one is our trip to Paris. Waktu saya berusia 16 tahun, saya, Ayu (Auuu adik nomer 2) and Natalia sepakat untuk kabur dari kamar hotel untuk menjelajahi kota Paris. Kita badung banget! Well, kita nggak punya banyak uang, so we decided to travel by train. We went to Arc D’triomph, walk around n laugh all day.
Satu tujuan yang kita obsesikan adalah taman Trocadero. So, dengan determinasi tinggi kita mencari taman Trocadero. It was so cold! Anginnya menusuk tulang amat menyiksa. Akhirnya, setelah berjam-jam tersesat dan hampir menangis pulang, kami menemukan taman Trocadero! Tamannya cantik sekali. Natalia tertawa kegirangan sambil menari-nari mengelilingi taman, terlupa akan dinginnya suhu kota Paris.
Setelah itu kami bertiga (dengan sisa uang) membeli roti Crepes panas. Yummy, sampai sekarang Crepes pisang itu masih terasa di mulut. Ayu kelaparan sekali so I share mine with her. Sementara Natalia makan Crepes coklat yang belepotan di mulut dan bajunya. Kami tertawa dan duduk sampai sore tiba di Trocadero. Waktu pulang kami bertiga bergandeng tangan sambil bersiap dengan omelan orang tua kami
Kami tiba di hotel pukul delapan malam, dengan ayah yang berkacak pinggang, dan ia hampir saja menelepon Polisi Perancis. Imagine that we were so naughty hahahahah.
Kami bertiga tidak pernah terpisahkan, bahkan sebelum kematiannya kami masih suka tidur bertiga sambil bercerita tentang kehidupan. I really miss her…
Some part of me died along with her death that night.
A part that cannot be mend nor repair.
Tapi saya tidak mau Natalia kecewa. If I prolong a life with tears n depression she would had been disappointed. I want her to be happy. I want to live to the fullest for her.
Beberapa hari sebelum kematiannya ia mengecup pipi saya di pagi hari dan pamit untuk ke sekolah. Saya mengingatkannya untuk berhati-hati, lalu ia menjawab dengan senyuman.
So my baby Natalia, my life is a prayer for you. Alam pasti merawat kamu dengan baik.
If you are reading this baby, yas selalu cinta kamu.
In my dream I still see you dancing in Nirvana. I will see you soon baby ![]()
“Atha yatraitad asmaccharirad utkramati, athaitar eva mibhir urdvham akramate, sa aum iti va ha ut va miyate” (Chandogya Upanisad VIII.6.5) Ketika kemudian ia meninggalkan tubuh ini, sesungguhnya ia pergi ke angkasa dengan sinar benderang ia akan pergi ke atas diliputi dengan Tuhan.
“Ulaika Ashhabul Jannati Hum Fihaa Khaalidun” (QS Yunus) Mereka itulah ahli-ahli Surga , tempat mereka yang abadi. 
Apakabar teman-teman semua, semoga dalam lindungan Tuhan senantiasa. I miss u all, and pray for your wellbeing.
Sebelumnya ingin mengucapkan selamat pada mahasiswa merangkap sahabat Bunga Noladika angkatan 2004, yang baru saja mengakhiri masa jomblonya dan berpasangan dengan IGM Arya (mahasiswa pintar dan baik). Hahahahahaha, excuse my childishness, dosen juga manusia ![]()
Selamat untuk Adhi Putra Tawakal mahasiswa yang paling dedikatif, pemenang juara ke II pemilihan Mahasiswa Berprestasi. I am so proud of you, jangan lupa cium tangan mama. Ridho dari Ibu adalah kunci dari segala kesuksesan.
Selamat untuk Upi, Sonny dan Irianto atas kesuksesan dan kesabarannya menjadi fasilitator Konfrensi International Woman 4 Peace. Wahuuuuu akhirnya bisa kembali menjadi anak muda yang impulsif armmagedonistik (hahahahahaha)
Sekarang sedang baca Nitishastra dari Chanakya (filsuf India), trus Breaking the Spell dari Daniel Dennet, The conquest of hapiness dari Bertrand Russell. I just love crazy themes ![]()
Still listening to Maliq n d’essentials, ‘Heaven”, (sambil nyanyi) “Jadikan cinta ini, surga duniawi, milik kita berdua selalu abadi.” Seriously, I’m so addicted to this song.
Still watching Drama Jepang ‘One liter of tears’, acaranya di Indosiar setiap sore. I cry all the time T_T Setiap lihat tokohnya Aya jadi inget adik tersayang Natalia. Such a moving story..
Oh ya.. kata adikku Bagus, Spiderman 3 dahsyat banget. Upi, Iri nonton yuk! (secara, kalian kan suka tuh yang mistik-mistik bisa lompat antar gedung pake jaring laba-laba kan?)hahahahaha seperti lochness, yetti n wolfie hahahahahaha Kalau kata Dosen Logika Pak Hayon, “Tidak bisa, itu tidak logis”
Anyways Thanks for you sweet mails, I love them all.
Keep on posting, thanks 4 visiting my Blog.
Salam Damai Sejahtera.
Topik damai bagi perempuan nampaknya masih menjadi harapan yang belum terwujud. Perempuan di Indonesia masih menjadi sasaran kekerasan, dari segala segi sosial, budaya dan politik, perempuan masih menjadi pihak yang selalu dirugikan. Keadaan ini bisa kita cermati dengan fakta-fakta statistik seperti hasil Lembaga Statistik Indonesia yang mengatakan bahwa kelompok miskin dan buta huruf tertinggi datang dari kelompok perempuan, atau ketidak seriusan pemerintah dalam penegakkan hukum demi melindungi perempuan pasca daerah konflik, atau lahirnya perda-perda yang cenderung menstigmatisasi tubuh perempuan. Dengan gamblang dapat dilihat bahwa pola pikir baik pemerintah dan kebudayaan bangsa ini masih sangat partriarkis dan misogin.
Mengapa dikatakan partriarkis, karena memang kebudayaan kita masih menganggap perempuan tidak bisa mewakilkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, dalam setiap pencetusan perda-perda kesusilaan yang diterapkan di daerah Tangerang misalnya, tidak pernah dihadiri atau diadakan ‘public hearing’ dengan kaum perempuan sebagai pengkritisirnya. Seharusnya apabila benar diperuntukkan demi kemashlatan perempuan, maka seharusnya keterlibatan suara perempuan secara politis harus ditingkatkan. Meski dengan posisi perempuan yang baru 11 % di DPR, tidak ada realisasi konkret penyelesaian ‘woman trafficking’ (perdagangan perempuan) atau nasib para TKW kita yang masih diperkosa dan dicabuli oleh majikannya. Kebijakan kita masih acuh terhadap kesejahteraan perempuan.
Kekerasan terhadap perempuan masih terjadi karena memang kebudayaan kita tidak tuntas melihat hak azasiah seorang perempuan. Tubuh seorang perempuan telah diperkosa semenjak zaman DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh, kerusuhan di Ambon, hingga lahirnya kebijakan-kebijakan daerah yang menganggap tubuh perempuan sebagai suatu godaan atau aib yang harus disembunyikan dan ditutup. Lahirnya perda-perda (syariat) ini dapat dikatakan sebagai pemerkosaan perempuan secara ideologis. Dimana perda-perda ini telah dikukuhkan secara publik, di dalam peraturan-peraturan yang dilembagakan secara sah. Kondisi semacam ini semakin mempersempit gerak perempuan, tidak saja dalam perspektif ranah privat, tapi khususnya dalam partisipasi publik.
Idealisme yang disebutkan oleh Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, nampaknya masih tertunda, karena perempuan masih berduka akan kegelapan yang tengah menderanya. Di Indonesia pemberdayaan terhadap perempuan merupakan proyek kemanusiaan yang lajunya tersendat-sendat dan setengah hati. Pemerintah harus menyadari bahwa perempuan memegang peranan signifikan dalam fungsi sosial. Bila Indonesia ingin mencapai tingkat kesejahteraan yang diidam-idamkan dan mengakhiri kemiskinan, maka derajat perempuan secara ekonomi harus ditingkatkan. Perempuan harus produktif. Ia harus diberikan kebebasan untuk mengaktualisasikan potensi-potensinya. Maka seperti John Rawls pernah katakan mengenai nesesitas ‘Basic Social Primary Goods’, kebutuhan-kebutuhan primer harus dipenuhi untuk perempuan, yaitu pendidikan, perlindungan, kesempatan yang adil, dan tentunya kebebasan. Tema kebebasan perempuan di Indonesia harus kita cermati, benarkah kita sudah bebas, atau kita tengah menghadapi penjajahan gender yang lebih laten dan subtil?
Agar tidak sekedar bicara namun penerapan secara nyata, pemerintah Indonesia harus menanggapi secara serius kekerasan yang telah memporak porandakan perempuan di daerah konflik. Menurut penelitian Yayasan Jurnal Perempuan, 113 perempuan di Aceh mengaku telah diperkosa selama masa DOM dan Pasca DOM. Gesture dari pemerintah untuk menyeret pelaku-pelaku kekerasan di Aceh dan Ambon misalnya, merupakan suatu gerakan ‘good will’ yang dapat memulihkan rasa ‘trust’ atau kepercayaan perempuan akan hukum yang sensitif gender. Hannah Arendt dalam karyanya On Violence, pernah menyebutkan bahwa cara paling efektif untuk mencegah kekerasan adalah dengan memberikan ‘deterrent effect’. Sikap hukum yang tegas dalam merawat keadilan bagi perempuan akan memperkecil upaya-upaya pelanggarn HAM terhadap perempuan.
Bicara transformasi sosial yang ramah gender tentu dibutuhkan komitmen dan kerja sama, tidak saja kaum perempuan tetapi kaum lelaki juga. Luce Irigaray seorang feminis post-strukturalis mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki menyimpan kesempurnaan dan keunikannya masing-masing. Rekognisi dan penghormatan akan status perbedaan inilah yang sesungguhnya menjadi kunci komunikasi yang harmonis antara perempuan dan laki-laki. Sehingga pandangan-pandangan yang mengatakan bahwa perempuan adalah ‘the second sex’, atau mahkluk yang berkedudukan dibawah laki-laki harus segera dihapuskan. Jelas konsep itu hanya berlandaskan mitos yang tidak bisa dipertanggung jawabkan secara kritis.
Pada Tanggal 30 April hingga 1 Mei 2007 telah terselenggara Konferensi Internasional Perempuan dan Perdamaian di Jakarta. Konferensi ini dihadiri oleh simpatisan isu perempuan dari seluruh dunia. Dalam momentum semacam ini maka persoalan perempuan dapat dibicarakan dan dicari bersama solusinya. Memang persoalan perempuan masih memerlukan perhatian khusus kita.
Dapat ditegaskan bahwa perempuan adalah mahkluk yang istimewa. Ia dikatakan bernyawakan cinta kasih, dan melahirkan perdamaian. Di daerah-daerah yang rawan konflik, perempuan seringkali menjadi korban, tapi perempuan tidak berdiam diri melihat keburukan yang terjadi, ia bangkit menjadi penyuara kaum-kaum tertindas, dan menjadi misionaris perdamaian. Pertanyaanya adalah, maukah anda membantu advokasi perdamaian untuk perempuan, dan melawan upaya-upaya dehumanisasi terhadap perempuan?