Forgive and Forget, frase sederhana yang amat sulit untuk diaplikasikan. Bukankah begitu? Pernahkah teman-teman merasakan hal seperti ini? Dimana sulit sekali untuk memaafkan seseorang?
Bila mengacu pada etika keagamaan, tentunya memaafkan adalah simbol utama nilai kemanusiaan.
Selalu ditekankan di dalam kitab suci, misalnya di dalam injil, ‘ampunilah dosa kami, seperti kami mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepada kami.’ atau dalam kejadian penyaliban Tuhan Yesus Kristus, ia bersabda dalam injil Lukas, ‘Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang telah mereka lakukan.’
Aduh, kebesaran hati Yesus Kristus, ketika Ia mengampuni mereka yang telah menjebak dan mengeksekusiNya. Mungkin itu yang harus diingat. Tapi, hati manusia tidak serta merta dapat memaklumi keburukan yang ditimpakan orang lain kepadanya. Sulit sekali membuka hati dan menerima permintaan maaf dari seseorang.
Memang agama atau prinsip-prinsip berkeyakinan selalu mengidealisasikan kondisi manusia yang selalu saling bermaaf-maafan. Oleh karena itu setiap menyebutkan Astagfiru-Allah, berarti aku memohon ampunan dari Allah. Hal ini disebabkan deskripsi Tuhan dari setiap agama selalu mencitrakan Tuhan yang Maha Pengampun.
Dalam agama Buddha pun, dikenal Metta, atau azas cinta, yaitu menghindari dendam dan selalu membuka hati untuk para musuh kita. Begitu juga dalam Hindu, meski mengenal hukum karma, ia tidak tertutup daripada upaya seseorang untuk memaafkan perbuatan silap orang lain kepadanya. Prayascitta, demikan ucap para pendeta Hindu, memaafkan merupakan kekuatan terbesar dari seorang manusia.
Memaafkan membutuhkan keikhlasan dan ketulusan hati. Itu mengapa saya katakan memaafkan merupakan suatu seni. Ia tidak lahir dari putusan-putusan rasional kita, tapi lebih kepada belas kasih dari hati nurani kita.
Saat ini mungkin saya sudah memaafkan, tapi belum melupakan.
Karena saya hanya manusia biasa, dan manusia butuh ruang dan waktu untuk menerima kesalahan orang lain.