Salam damai dan sejahtera sahabat.
Hari Rabu lalu saya mendapat kesempatan langka untuk bicara di hadapan pendeta-pendeta dari Persekutuan Gereja Indonesia. Bersama dengan saya di podium adalah seorang tokoh muslim yang sangat saya kagumi yaitu, Gus Nuril. Untuk mereka yang selalu intens mengikuti perkembangan gerakan kemanusiaan di Indonesia pasti tidak akan asing mendengar nama ini. Aktivitas Gus Nuril tidak pernah lepas dari perjuangan nilai-nilai HAM di Indonesia, khususnya mengenai kemerdekaan dan kebebasan beragama.
Ada yang unik dari Gus Nuril, ia selalu menyampaikan konsep perdamaian dengan bahasa yang lugas dan terkadang penuh dengan anekdot. Mungkin ini suatu tradisi ulama NU yah… Beliau sangat humoris
Gus Nuril mencoba menunjukan bahwa meski didera problem yang berat, kita tetap harus berpikir positif dan terus berusaha untuk yang terbaik.
Gus Nuril mengawali ceramahnya dengan menyanyikan satu Mazmur dari Injil. Hal ini benar-benar membuat saya tersentuh, bahwa luasnya pengetahuan beliau mencerminkan kepribadiannya yang menghargai keberagaman dalam memeluk keyakinan. Ia mengucapkan shalom terlebih dahulu, baru disusul dengan Assalammualaikum. Gestur-gestur kecil, namun untuk saya sangat inspiratif.
Gus Nuril berbagi pengalamannya tentang perayaan Natal di Semarang. Bagaimana setiap pagi hari di hari Natal ia selalu menugaskan santri-santrinya untuk membantu para umat nasrani untuk membersihkan gereja. Selain itu ia juga mengerahkan banser-banser NU dari pondok pesantrennya untuk menjaga gereja-gereja ketika menyelenggarakan kebaktian. Bahkan Gus Nuril tidak mengeluh ketika dirinya dihujat FPI, santrinya dipukuli FPI di silang monas, baginya justru ia merasa sedang berjihad ketika sedang melindungi mereka yang lemah.
Saya menjadi optimis setiap bertemu dengan ulama yang peka terhadap pluralisme seperti halnya Gus Nuril. Saya termotivasi untuk terus berjuang tanpa gentar dan rasa takut.
Gus Nuril bercerita juga bahwa terkadang ia mengundang tokoh-tokoh non-muslim untuk berceramah selepas sholat Jum’at di pondok pesantrennya. Sebaliknya ia juga merasa senang apabila diundang berkhotbah ke gereja. Ia memandang agama seharusnya menjadi perekat kerukunan antar manusia, bukan menjadi sumber konflik. Kerukunan ini dapat terjadi apabila ada suatu komunikasi antar iman, yang terbuka, jujur dan penuh empati. Hanya melalui keyakinan dan kesungguhan semacam inilah maka perdamaian akan terwujud.
Sebelum beranjak pulang saya minta berfoto dengan Gus Nuril (ini foto yang kedua kalinya loh…) Maklum, orang lain bisa mengidolakan Ariel Peter Pan, atau Fachri Albar, kalau saya fanatik dengan Gus Nuril hihihihihi.
Melengkapi kebahagiaan saya, sepulang dari acara PGI di Cipayung saya menerima sms dari Gus Nuril,
“Saya sudah mau naik pesawat ke Semarang, semoga Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa mengaruniaimu dengan derajat yang luhur. Berbahagialah keluarga yang memiliki ratna secemerlang engkau. Aum Swastiastu.”
Di momen seperti ini saya merasa hidup itu penuh dengan kemungkinan akan perubahan yang lebih baik.
Aum Swastiastu, Gus…
Tunggu yah teman2 foto2 di PGI belum sempat diupload. Ini foto saya dengan Gus di kantor KWI Cikini.
Sudah saatnya bangsa ini memerlukan orang-orang seperti Gus Nuril yang tetap mengedepankan keberagaman diatas segalanya…
hai sungai सरस्देवी yang berarus deras, di aliranmu seseorang akan terhanyut ![]()
Great posting and blog, I know my site is not really related but check it out and give me any contructive feedback you have. If you are interested in putting my site in your blog role I could do the same.
Saras, tulisan2mu sangat inspiratif. Saya baca profilmu di Kompas Minggu dan salut sekali pada sosokmu.
Oya, saya dpt kutipan bagus ttg agama : Tujuan utama agama untuk mengontrol diri sendiri, bukan mengkritik orang lain. Kita harus mengkritik diri sendiri. Sejauh mana kita membenahi amarah, keterikatan, kebencian, dan kecemburuan kita? Ini hal-hal yang harus kita periksa sehari-hari.(Dalai Lama)
Salam kenal dari wong Jogja. Pamit dumun.
Kita butuh banyak org2 seperti gus nuril. saya lihat mbak saras di Debat Tv One, soal RUU pornografi ya klo ga salah, masih banyak org fanatik sempit, susah
*sigh*
Great website, I love the look of your blog. Any ideas you have to improve my site?
kalau saja aku berada di antara mereka, takan malu diri ini untuk meneteskan air mata kebahagiaan