Ada yang indah dari kekacauan. Ada yang menarik dari sesuatu yang abstrak. Yang tidak bisa kita pahami dengan rasio atau logika, yang tidak bisa kita perkirakan atau kita ukur. Sesuatu yang membuat kita enggan untuk mendayung sampan, dan membiarkan segalanya berlalu sesuai dengan laju arus. Saya hidup tanpa rencana. Saya sungguh-sungguh ‘hippie’ yang menghargai waktu beserta segala hak kemisteriusannya. Saya tidak suka ramalan cuaca, tidak suka memikirkan hari esok, tidak suka berlarut-larut memikirkan derita hari ini, karena segalanya selalu berubah.
Mungkin karena itulah saya benci benda-benda elektronik. Karena alat-alat tersebut mengekang dan memaksa kita untuk selalu membuat keteraturan. Saya benci menyusun, entah itu daftar telpon, hingga buku-buku di kamar saya. Saya sentimental fool yang anti perfeksionisme, saya impulsif, dan saya memilih untuk bekerja dengan cara mendadak (hihihi) Memang ada masanya impulsivitas saya harus tunduk dibawah standarisasi masyarakat umum. Banyak yang menyangka saya terbiasa dengan keteraturan, padahal, dibalik senyum, tata bahasa yang tertata dan buku-buku yang tersusun rapi di meja Departemen Filsafat, saya berusaha keras menekan kecintaan saya dengan kekacauan.
Sejujurnya, saya merasa takut dengan keteraturan. Bila segalanya sudah kita perhitungkan, kita timbang untung-ruginya, tabulasikan kemungkinan-kemungkinannya, lantas, tidak ada lagi yang mendebarkan dari hidup. Tentu saja tidak semua orang berpandangan hidup seperti ini. Kekasih saya contohnya, ia sangat kesal dengan gaya hidup saya yang mendewakan ‘flux’ atau ‘chaos’. Dialah yang mengajarkan saya menggunakan jam tangan! Memaksa saya menggunakan handphone canggih (seperti blackberry!!!), yang hingga kini masih berhasil saya tolak dengan cerdik (entah sampai berapa lama…) Kekasih saya hingga kini masih berusaha menyingkirkan ponsel Motorola tua saya.
Ponsel saya benda antik yang manis, jam digitalnya sudah rusak, jadi saya tidak merasa dia selalu mengingatkan dan menekan waktu. Dia tidak membuat saya kecanduan, dia tidak bisa online, jadi saya tidak selalu merasa punya kewajiban untuk loggin dan jadi ‘eksis’. Tidak membuat saya menjadi robot, alarmnya sudah rusak jadi saya tidak merasa dia bisa mengatur dengan bunyi-bunyi yang bising. Ponsel biru saya adalah satu-satunya teknologi yang bisa saya tolerir, meskipun begitu ada masanya saya pulang ke rumah dan mematikan ponsel, membiarkan diri terlepas dari jangkauan.
Memang sepertinya berbahaya hidup tanpa persiapan. Tapi masa-masa saya terlalu mengkhawatirkan detil-detil dari hidup telah saya lewati. Di usia saya yang sekarang, saya puas melayari hidup apa adanya. Masa-masa tinggi tidak membuat saya terlalu senang, dan sebaliknya masa-masa rendah saya nikmati dan saya gali hikmahnya. Saya senang berkarya, bukan(hanya) untuk rekognisi, tapi saya cinta berkarya karena karya adalah cara untuk berkomunikasi dengan ratusan ribu pikiran di luar sana. Dulu saya berpikir bahwa saya harus produktif sebagai manusia, itu rencana saya. Tapi di dalam proses memaksa diri menjadi produktif, saya merampas diri saya dari pentingnya untuk selalu bersuka ria, menikmati pengejaran dan pencapaian. Saya tidak ingin terlalu habis waktu merencanakan sesuatu, dan melewati kejadian yang sesungguhnya.
Dr. Salovey, seorang psikolog keren dari Yale pernah berkata, “kita menyukai seseorang karena setitik blunder di dalam diri orang tersebut.” Kita menyukai seseorang karena kelemahannya, karena kekurangannya, setitik kekacauan yang tersimpan di dalam wajah mereka. Saya sangat meyakini itu, we are messy… right? Ada sesuatu yang eksotik di balik ‘chaos’. Perasaan yang mentah, yang hanya kita rasakan ketika kita berdiri di depan sesuatu yang tidak kita ketahui, tetapi begitu menarik dan mempesona. Don’t you think chaos is fascinating?
We love life because of its chaotic imperfection.
Lega yah rasanya, bisa bicara dengan esteem, that I’m a chaoticoholic
Rapih karena terpaksa….
Dear teman2 yang setia singgah di Blog ini…
Selasa tanggal 10 Maret 2009 ini saya akan launching buku ke-3 saya yang berjudul Cinta Bukan Coklat. Senang dan bercampur gugup, karena saya lama sekali tidak menulis buku, apalagi tema nya yang susah soal cinta….
Meski Cinta bukan Coklat ini buku filsafat, tapi jangan takut, filsafat yang saya jabarkan sama sekali nggak susah, bahkan rasanya seperti membaca blog saya. Memang sengaja saya tulis dengan ringan dan jenaka (maaf ya kalau kadang2 lucunya garing..)
Semua teman2 di situs ini saya undang, apalagi yang setia banget support saya selama 4 tahun bekerja, entah itu menyanyi, mengajar, hingga berpuisi dan menulis. Saya merasa bahwa diluar sana ada orang-orang yang mengerti saya dan mendukung my wild adventures…
Jadi kalau temen2 mau, silahkan mampir ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, jam 12:00PM, UI, Depok.
Saya akan memperkenalkan buku saya, berpuisi dan menyanyi…