Mar
13

Hidup Tanpa Rencana

Filed Under (My Stories, Philosophy) by sarasdewi on 13-03-2009

Ada yang indah dari kekacauan.  Ada yang menarik dari sesuatu yang abstrak. Yang tidak bisa kita pahami dengan rasio atau logika, yang tidak bisa kita perkirakan atau kita ukur. Sesuatu yang membuat kita enggan untuk mendayung sampan, dan membiarkan segalanya berlalu sesuai dengan laju arus. Saya hidup tanpa rencana. Saya sungguh-sungguh ‘hippie’ yang menghargai waktu beserta segala hak kemisteriusannya. Saya tidak suka ramalan cuaca, tidak suka memikirkan hari esok, tidak suka berlarut-larut memikirkan derita hari ini, karena segalanya selalu berubah.

Mungkin karena itulah saya benci benda-benda elektronik. Karena alat-alat tersebut mengekang dan memaksa kita untuk selalu membuat keteraturan. Saya benci menyusun, entah itu daftar telpon, hingga buku-buku di kamar saya. Saya sentimental fool yang anti perfeksionisme, saya impulsif, dan saya memilih untuk bekerja dengan cara mendadak (hihihi) Memang ada masanya impulsivitas saya harus tunduk dibawah standarisasi masyarakat umum. Banyak yang menyangka saya terbiasa dengan keteraturan, padahal, dibalik senyum, tata bahasa yang tertata dan buku-buku yang tersusun rapi di meja Departemen Filsafat, saya berusaha keras menekan kecintaan saya dengan kekacauan.

Sejujurnya, saya merasa takut dengan keteraturan. Bila segalanya sudah kita perhitungkan, kita timbang untung-ruginya, tabulasikan kemungkinan-kemungkinannya, lantas, tidak ada lagi yang mendebarkan dari hidup. Tentu saja tidak semua orang berpandangan hidup seperti ini. Kekasih saya contohnya, ia sangat kesal dengan gaya hidup saya yang mendewakan ‘flux’ atau ‘chaos’. Dialah yang mengajarkan saya menggunakan jam tangan! Memaksa saya menggunakan handphone canggih (seperti blackberry!!!), yang hingga kini masih berhasil saya tolak dengan cerdik (entah sampai berapa lama…) Kekasih saya hingga kini masih berusaha menyingkirkan ponsel Motorola tua saya.

Ponsel saya benda antik yang manis, jam digitalnya sudah rusak, jadi saya tidak merasa dia selalu mengingatkan dan menekan waktu.  Dia tidak membuat saya kecanduan, dia tidak bisa online, jadi saya tidak selalu merasa punya kewajiban untuk loggin dan jadi ‘eksis’.  Tidak membuat saya menjadi robot, alarmnya sudah rusak jadi saya tidak merasa dia bisa mengatur dengan bunyi-bunyi yang bising. Ponsel biru saya adalah satu-satunya teknologi yang bisa saya tolerir, meskipun begitu ada masanya saya pulang ke rumah dan mematikan ponsel, membiarkan diri terlepas dari jangkauan.

Memang sepertinya berbahaya hidup tanpa persiapan. Tapi masa-masa saya terlalu mengkhawatirkan detil-detil dari hidup telah saya lewati. Di usia saya yang sekarang, saya puas melayari hidup apa adanya. Masa-masa tinggi tidak membuat saya terlalu senang, dan sebaliknya masa-masa rendah saya nikmati dan saya gali hikmahnya. Saya senang berkarya, bukan(hanya) untuk rekognisi, tapi saya cinta berkarya karena karya adalah cara untuk berkomunikasi dengan ratusan ribu pikiran di luar sana. Dulu saya berpikir bahwa saya harus produktif sebagai manusia, itu rencana saya. Tapi di dalam proses memaksa diri menjadi produktif, saya merampas diri saya dari pentingnya untuk selalu bersuka ria, menikmati pengejaran dan pencapaian. Saya tidak ingin terlalu habis waktu merencanakan sesuatu, dan melewati kejadian yang sesungguhnya.

Dr. Salovey, seorang psikolog keren dari Yale pernah berkata, “kita menyukai seseorang karena setitik blunder di dalam diri orang tersebut.” Kita menyukai seseorang karena kelemahannya, karena kekurangannya, setitik kekacauan yang tersimpan di dalam wajah mereka. Saya sangat meyakini itu, we are messy… right? Ada sesuatu yang eksotik di balik ‘chaos’. Perasaan yang mentah, yang hanya kita rasakan ketika kita berdiri di depan sesuatu yang tidak kita ketahui, tetapi begitu menarik dan mempesona. Don’t you think chaos is fascinating?

We love life because of its chaotic imperfection.

Lega yah rasanya, bisa bicara dengan esteem, that I’m a chaoticoholic :D

Rapih karena terpaksa….

 



10 Comments Already, Leave Yours Too

menyambung2tahu on 13 March, 2009 at 11:35 am #
    

menarik sekali!

seekor kata tidak merasa bersiap-siap sebelum melompat, lompatan itu sudah ada pada dirinya, ancang-ancang itu tidak ada dalam kosa katanya …


aliya mutiyara on 14 March, 2009 at 8:02 pm #
    

chos adalah ‘aturan’ dunia saat maka ikitilah dan nikmati, jadikan keindahan2 yang tak terduga


adist on 14 March, 2009 at 9:46 pm #
    

nice posting yas! :)
dan sbenernya, ada keteraturan dalam ketidakteraturan itu sendiri, kan..

slama ini aku cenderung orang yang rapi dan well-organized..tp emang agak cape sendiri sih klo ada hal yg ngga kesampean. dan ahirahir ini lg mencoba ‘hidup tanpa rencana’ sperti yg yas bilang di atas. we’ll see.. eheheu.

setuju sama quotenya Dr. Salovey
“kita menyukai seseorang karena setitik blunder di dalam diri orang tersebut.”
hahaha..bener tuh!
(ini Peter Salovey ya yas?)


firil on 16 March, 2009 at 1:36 am #
    

karena jagadraya ini pun tercipta oleh chaos. tuhan pun perlu mendatangkan kekacauan terlebih dahulu sebelum ia hadirkan kedamaian di hati manusia.
cukuplah itu saja yang kita pahami. karena sesungguhnya kita tak pernah berdaulat betul atas diri dan jiwa kita.
maka tengadahkanlah kepalamu senantiasa ke langit untuk menangkap pertanda-pertanda yang dikirimkan tuhan melalui alam, lalu rundukkan kepalamu seperti ilalang yang selalu merunduk setiapkali langit senja menyapa mereka, karena alam pun merunduk pada-Nya.

salam


aya on 18 March, 2009 at 7:32 pm #
    

salam,
saya sekarang lg belajar tentang hindu, agama pertama tapi kesulitan mendapatkan upanishad, mbak bisa bantui saya? mkasih


ammie (sista of Yayas) on 20 March, 2009 at 2:37 am #
    

K yas, sori kalo rada ga nyambung,,
saya cuman penasaran, kok di klip ‘lembayung Bali’ gak ada potongan lirik terakhir?

padahal menurut aqu, dats d most beautiful part of d song T_T

btw umur kk brapa waktu bikin klipnya?
kok yang di net lagu kk itu doang siii?
mau dong, dibanyakin,,, :p


Lanjar on 27 March, 2009 at 12:00 am #
    

Dear, mba’ Saras..
Saya butuh bantuan mba’ saras untuk mereview novel saya bisa terbit setelah saya dapat komen dari orang-orang yang komentarnya memang bisa diandalkan, seperti mba saras.. maaf saya menghubungi mba’ saras via coment blog begini.. saya sangat sangat sangat berharap mba’ saras bisa mereply ke alamat email saya.. terimakasih banyak sebelumnya.. semoga, kalau memang mba’ saras pecandu debar dalam hidup,, kehadiran komen ini bisa menambah warna dalam hidup mba saras.. semoga (sangat2 berharap).


Epicurus on 29 March, 2009 at 2:41 am #
    

Mau beli hp saja kok merenung panjang!


Epicurus on 29 March, 2009 at 2:45 am #
    

gi sana buka dulu: http://www.epicurus.net


co-that on 6 April, 2009 at 7:08 am #
    

Hiduplah pada masa kini, maka masa lalu dan masa depan menjadi tidak penting lagi.


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: