Apr
23

Merasakan Denyut Nadi Gaia

Filed Under (Philosophy) by sarasdewi on 23-04-2009

Ada alasannya mengapa ilmuwan dan peneliti iklim bernama James Lovelock menyebut planet bumi sebagai Gaia di dalam karyanya yang termasyhur Gaia: New Perspective on Life. Di dalam tradisi mitologi Yunani, Gaia diyakini sebagai simbol martriarki dari para dewi-dewi. Dituliskan oleh pujangga Hesiod di dalam karyanya Theogony, bahwa Gaia adalah sumber kekuatan yang menghembuskan kehidupan dan mengakhiri kekacauan di alam semesta. Rupanya pemberian nama pada bumi ini untuk Lovelock bukanlah sekedar metafora semata, ia sungguh-sungguh meyakini bahwa bumi adalah superorganisme yang mampu menyesuaikan diri dan juga memelihara kehidupan yang berjalan di dalamnya.

Melalui telusur DNA yang ditemukan di Afrika, disimpulkan bahwa eksistensi manusia kurang lebih berusia 200.000 tahun. Usia ini seperti sekejap mata apabila dibandingkan dengan usia bumi yang terentang selama 4,5 milyar tahun lamanya. Dari pengukuran sederhana ini bumi sebagai planet telah melewati berbagai macam perubahan atau tahap evolusi. Tetapi dikarenakan kecenderungan perspektif antroposentrik, umat manusia kerap melupakan apa kepentingan bumi sebagai planet, dan mendahulukan kepentingan manusia saja. Kita sering menganggap bahwa bumi hanyalah ruang bagi sejarah manusia, benda mati yang bisa dieksploitasi dan dipergunakan hanya untuk kepuasan manusia.

Lovelock sebagai salah satu tokoh yang memberikan dampak signifikan terhadap gerakan lingkungan hidup, mengajukan justru pandangan juxtaposisi, bahwa sesungguhnya bumi bukanlah objek mati yang statis, menurutnya Gaia adalah entitas kompleks yang mampu mengkontrol dan bertindak untuk merawat keseimbangan dirinya. Beberapa argumen dari Lovelock melibatkan konsep-konsep seperti stabilitas tempratur, dan equilibrium ekosistem. Misalnya argumen Lovelock mengenai kemampuan cybernetic dari Gaia untuk menjaga konsistensi dari tempratur, ia menjustifikasi bahwa bumi secara subtil menjaga tempratur agar seluruh spesies dapat hidup secara nyaman. Kejadian ini ia analogikan seperti proses homeostasis manusia. Dimana tubuh manusia secara cybernetic mampu menyesuaikan dan beradaptasi secara fisiologis dalam kondisi-kondisi iklim tertentu. Disaat tubuh manusia terserang dingin, maka kita akan menggigil untuk menghasilkan panas, sebaliknya, apabila tubuh kita merasa panas maka kita akan berkeringat untuk mendinginkan tubuh.

Semenjak munculnya oksigen ke atmosfir bumi hampir 2 milyar tahun yang lalu, Gaia telah menjadi rumah bagi kurang lebih 10 milyar spesies makhluk hidup. Kita adalah salah satu spesies yang sangat bergantung pada keberadaan oksigen. Bila kita teliti lebih mendalam, sesungguhnya spesies yang bertempat tinggal di bumi bergantung pada keseimbangan yang rapuh. Oksigen sebagai salah satu contoh, gas O2 yang kita sebut sebagai udara berada pada lapisan troposfer yang ketebalannya tidak mencapai 17 kilometer. Dibawah tudungan troposfer inilah kehidupan dimungkinkan, tidak terbayangkan katastrof yang terjadi apabila lapisan yang tipis ini rusak dan terkontaminasi dengan gas-gas beracun lainnya.

Selain pembelaan Lovelock terhadap ‘kecerdasan’ Gaia merawat tempratur untuk kondisi hidup, ia juga menunjukan betapa istimewanya bumi sebagai planet melalui perbandingan dengan planet-planet lainnya di tata surya. Ia menjelaskan bahwa selepas terjadinya supernova dan terbentuknya tata surya kita, hanya bumi yang menunjukan fertilitasnya sebagai planet dibandingkan dengan Mars dan Venus. Padahal antara Mars, Bumi dan Venus pada awalnya terdiri dari elemen-elemen yang serupa, beracun dan sangat radioactive, tanpa lapisan ozon sehingga tidak terlindungi dari radiasi sinar ultra violet. Masing-masing dari tiga planet ini memang menjalani proses evolusi, misalnya Mars meski kini memiliki atmosfer, tetapi yang melapisi angkasa Mars adalah gas karbondioksida, sementara itu yang melapisi Venus adalah gas belerang yang beracun, hanya bumi yang berevolusi dan memiliki kehidupan. Sungguh unik dan misterius bagaimana bumi mampu memelihara kehidupan dan menyeimbangkannya pula.

Namun sepertinya keharmonisan yang selama milyaran tahun telah diciptakan oleh Gaia kini terganggu oleh perubahan-perubahan radikal yang dibuat oleh manusia. Industrialisasi massal, overpopulasi, adalah sebagian problem yang ditimbulkan oleh manusia. Setiap tahunnya semakin banyak wilayah hijau yang tergusur dan digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit. Hilangnya hutan-hutan tropis sebagai paru-paru dunia mengakibatkan semakin tingginya gas karbondioksida yang diproduksi dari penggunaan bahan bakar fosil. Semua fenomena ini berujung pada pemanasan global, dimana efek domino dari kejadian ini adalah mencairnya glasier di daerah kutub yang kemudian menyebabkan meningkatnya permukaan air.

Hal lainnya yang patut diprihatinkan adalah berkurangnya lapisan ozon kita, pada tahun 2008 NASA menunjukan foto angkasa Antartika yang menunjukan lubang teramat besar di lapisan ozon kita. Bila keadaan ini terus berlanjut maka umat manusia akan semakin terkespos dengan frekuensi tinggi dari sinar ultraviolet. Banjir gempa bumi dan, perubahan iklim yang drastis, hanyalah awal dari petaka, bila tidak segera ditanggulangi maka akan berakibat pada berkembangnya virus penyakit, musnahnya habitat hewan hingga gagalnya produksi pangan beserta efek-efek destruktif lainnya. Apabila hipotesa yang disampaikan oleh Lovelock mengenai Gaia benar, bahwa bumi adalah semacam superorganisme. Maka kita patut berpikir, apakah petaka-petaka alam ini merupakan reaksi bumi untuk menyeimbangkan keadaan? Apakah reaksi bumi tersebut merupakan tindakan resistensi terhadap ancaman yang dilakukan oleh manusia?

Filosofi dari Lovelock mendorong kita untuk mengkontemplasikan, apa maknanya manusia hidup di bumi ini? Mengapa eksistensi kita di bumi justru menyebabkan kehancuran dan membahayakan kelangsungan keseimbangan yang rapuh tersebut? Terlepas dari kebenaran hipotesa Gaia milik Lovelock, sesungguhnya ekosistem kita bersandar pada kepekaan kita untuk bertindak, pilihan hidup kita memberi dampak pada lingkungan di sekitar kita. Bila manusia memilih untuk meneruskan gaya hidup yang destruktif terhadap lingkungan maka tentunya bumi akan memberikan reaksi yang ekstrem juga.

Bagaimanapun buruknya kerusakan yang telah kita akibatkan, bumi sepertinya masih memberikan manusia waktu untuk mengevaluasi dan berubah. Karena itulah kita seharusnya optimis bahwa penyadaran terhadap pentingnya lingkungan hidup masih dimungkinkan. Advokasi terhadap kelestarian bumi sudah seharusnya digencarkan, kita harus mendesak para pembuat kebijakan untuk menjadi sensitif dan berpihak pada kelestarian alam. Undang-undang perlindungan hutan, laut dan cagar alam kita harus dijalankan dengan sepenuh hati. Manusia juga harus segera mencari sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selain itu kita harus merubah pola konsumsi kita yang berlebih terhadap sumber daya alam, dan membiasakan diri untuk melakukan proses daur ulang.

Hidup berkesadaran adalah kunci untuk dapat terus melanggengkan keharmonisan ekosistem kita yang begitu indah. Kita harus ingat, bahwa manusia hanyalah sebagian kecil dari bumi. Sudah selayaknya kita merasa beruntung dapat hidup di bumi dan merasakan segarnya air, sejuknya udara dan hangatnya matahari. Mengagumkan bila direfleksikan, bahwa bumi kita telah memberikan kita anugerah kehidupan. Kita patut meluangkan waktu dan berhenti sejenak, merasakan denyut nadi Gaia dan mengucap syukur.



1 Comment So Far

aya on 27 April, 2009 at 7:08 pm #
    

yes one earth one life


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: