Tidak terasa empat tahun lamanya Natalia telah berpulang.
Dua hari belakangan saya terus bermimpi detik-detik saya menghantarkan peti jenazah dari Jakarta menuju Denpasar. Melalui bantuan seorang kolega Ayah, kami disewakan satu pesawat boeing untuk mengangkut peti jenazah dan 100 orang pelayat. Semua orang yang saya kasihi berada di dalam pesawat itu. Orang tua saya, adik-adik saya, dan sahabat-sahabat saya.
Pesawat yang kami charter berderum halus, langit cerah tanpa gumpalan awan. Ketika di ketinggian 40.000 kaki, pilot melalui public announcer mengucapkan kata belasungkawa. Setiap orang berwajah lesu, menahan tangis, dan berbisik-bisik bercerita tentang betapa manisnya adik saya. Sungguh malam yang penuh dengan derita. Saya melihat keluar dari jendela, dan langit begitu terang dengan percik-percik bintang. Indah seperti pendar mata Natalia.
Saya tidak sempat menangis. Semua orang menangis, khususnya Mamah dan Ayah. Mereka menangis tanpa henti, seluruh keluarga terus menangis larut di dalam duka. Selama 2 jam perjalanan itu saya terlalu risau memikirkan bagaimana kesepiannya adik saya berada di kargo seorang diri. Karena selama ini ia anak yang penakut, takut tidur sendiri dan takut gelap. Saya selalu ingat pada tengah malam ia akan menyusup ke kamar saya dan memeluk saya di dalam selimut.
Adik saya disemayamkan di pembaringan rumah duka selama 9 hari, selama itu pula saya tidur tidak jauh dari persemayamannya. Tiap malamnya saya masih menyanyikan Natalia lagu-lagu pengantar tidur. Saya tidak sempat berduka, karena setiap orang bergantung dan berharap kekuatan pada diri saya. Malangnya adik saya Ayu yang harus pulang ditengah studinya di Australia, dan mendapati Natalia sudah meninggal. Begitu juga dengan adik saya Bagus, yang terus menangis dan menjadi murung. Sungguh janggal bagi saya, kami berempat sangat dekat dan kini harus kehilangan salah satu saudara yang amat kami cintai.
Di hari Ngaben, ribuan pelayat datang dan mendoakan prosesi upacara suci pembakaran jenazah. Saya ingat sekali, bagaimana saya dan Mama membawa guci berisikan abu Natalia ke tengah laut. Langit gelap dan ombak bergelombang dengan keras. Mama saya memegang erat guci tersebut. Di tengah samudera disanalah saya berpisah dengan adik saya. Menebarkan abunya dan mengucap selamat tinggal.
Sebagai seorang filosof saya paham bahwa kematian itu alamiah, kematian itu adalah sebagian dari kemanusiaan kita. Begitu banyak buku dan ilmu yang saya pelajari tidak juga melipur kesedihan saya kehilangan Natalia. Ironis, bagaimana pengetahuan itu tidak menyelamatkan jiwa saya.
Kini empat tahun berselang, tiap tahunnya akhirnya saya memiliki waktu untuk berduka. Untuk menangis di bilik kamar, tanpa suara dan mengenang bagaimana beratnya hidup tanpa kehadiran Natalia. Bila ia masih hidup kini Natalia akan berusia 20 tahun, sedang menyusun skripsi dan bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia masih menggandrungi Harry Potter dan maniak menyantap sop kambing. Kenangan-kenangan ini yang menjadi sangat berharga untuk saya, yang menjadi penghiburan ketika malam mengisolasi diri saya.
Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca blog saya. Saya merasa bahwa diluar sana begitu banyak orang yang merasakan derita yang sama kehilangan orang yang sangat dikasihi. Kepada mereka saya membuka tangan dan erat merangkul.